Rendah hati dalam belajar

Standar

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semakin banyak belajar maka semakin banyak lupa. Antara setuju dan tidak setuju, sebab ada juga benarnya. Namun jika ini dijadikan dalih untuk tidak belajar, maka ini salah besar. Kadang-kadang pula manusia tidak mau belajar karena merasa dirinya sudah pandai. Padahal tidak ada manusia yang benar-benar pandai di dunia ini.

Islam telah memberikan penanaman nilai untuk menuntut ilmu, belajar tiada batasan umur, tidak mengenal tempat dan waktu. Oleh karenanya, siapa saja yang di dalam dirinya terdapat semangat belajar, maka ketika dia bertemu dengan anak kecil sekalipun dia dapat mempelajari sesuatu yang bermanfaat darinya.

Belajar dalam pengertian duduk di bangku sekolah adalah definisi yang sempit. Dalam bahasa Jepang ada istilah narau (習う)yang sangat berbeda maknanya dengan manabu (学ぶ)atau benkyou (勉強). Pengertian narau adalah melihat, mendengar, dan mencoba sesuatu sehingga dia terlatih.Oleh karenanya lebih sering dipergunakan untuk menyatakan aktivitas belajar keahlian. Adapun manabu lebih bermakna luas, belajar secara formal maupun informal.

Belajar yang saya maksudkan dalam tulisan ini lebih dekat pada makna manabu. Manusia dapat belajar dari rumput, bunga-bungaan, burung, semut, dan lain-lain yang ada di sekitarnya. Manusia pun dapat belajar dari sesamanya.

Jika sudah tertanam niat untuk belajar, maka seseorang harus menyimpan sementara harga diri dan menghilangkan kesombongannya. Semua pembelajar mesti bersikap rendah hati untuk memudahkan masuknya ilmu ke dalam dirinya. Apabila seseorang sudah bersikap merendahkan pengajarnya, maka lebih baik dia mencari guru yang lain.

Dalam belajar bersama, adakalanya seorang murid lebih pandai daripada murid yang lain, atau bahkan dia sudah mempelajari apa yang tengah diajarkan oleh gurunya. Maka sesekali dia mendahului teman-teman belajarnya untuk menjawab pertanyaan atau menyela gurunya.

Seorang yang hendak menjaga ketenangan belajar dan berniat mendorong teman-teman belajarnya untuk menjadi pandai, hendaklah diam dalam keadaan seperti di atas. Ada baiknya memberikan kesempatan kepada teman yang lain untuk berpikir dan mencerna ilmu. Orang yang mengetahui akan lebih mulia apabila dia mengangkat suara ketika teman belajarnya telah berusaha dan tampaknya tak bisa menjawab.

Kerelaan seseorang untuk duduk tenang mendengarkan penjelasan guru yang lebih muda usianya atau jabatan dan statusnya lebih rendah adalah juga salah satu kerendahan hati dalam belajar. Semakin bertambahnya umur seseorang hendaknya membuatnya semakin bijak dalam berperilaku dan bersikap.

Saya menuliskan hal ini sebagai peringatan bagi diri saya pribadi. Karena barangkali saya mulai terjangkiti sedikit kesombongan pada majlis yang saya hadiri hari ini. Karena merasa mengetahui lebih banyak dari teman belajar, maka saya secara tak sengaja sering kali menjawab pertanyaan guru. Alhamdulillah, Allah mengingatkan diri yang hina ini. Tatkala menyadari kesombongan tsb, dengan segera saya beristighfar. Semestinya saya lebih bijak, sebab saya pun adalah pengajar yang semestinya mengerti bagaimana proses orang yang belajar. Tampaknya saya masih harus banyak belajar….

Renungan hari keenambelas…

 

 

One thought on “Rendah hati dalam belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s