Tidak Ada Waktu Lagi

Standar

Suatu kali pernah saya mendengar teman yang sebenarnya sudah mampu untuk menunaikan ibadah haji, menunda keberangkatannya karena merasa belum pantas, dilihat dari segi pemahaman agamanya. Pernah pula seorang kawan menolak mengenakan hijab karena belum siap. Dan ada pula sahabat yang enggan mengeluarkan sedekahnya karena merasa belum kaya.

Banyak penundaan-penundaan yang kita lakukan terkait dengan masalah ibadah. Dan demikian pula banyak pengandaian yang kita buat untuk melakukan sebuah kebaikan. Kalau saya sehat, saya akan berangkat. Kalau saya kaya, saya akan menyumbang. Kalau saya lulus, saya akan mengenakan hijab, dan kalau-kalau yang lain.

Padahal, sebenarnya kita tidak tahu masih adakah waktu untuk kita besok.

Menyadari hal ini, saya mulai merasa sebagai orang yang merugi karena banyak waktu yang terlewatkan tanpa perbuatan yang diniatkan untuk beribadah. Kesibukan duniawi selalunya melupakan bahwa kerja di dunia adalah semata ibadah untuk mengharapkan kehidupan akhirat yang mulia.

Jika berangkat dari pemikiran bahwa tidak ada waktu lagi (untuk bersantai) di dunia, maka semestinya, kerja di dunia akan lebih bermakna. Pekerjaan di dunia semestinya dilakukan dengan tujuan mendapatkan kehidupan akhirat. Semangat bekerja tentunya akan berbeda dengan semangat hanya untuk mendapatkan kehidupan dan kesenangan di dunia.

Memang sungguh sulit mewujudkannya.Tetapi tidak ada waktu untuk merenung dan menimbang-nimbangnya lagi.

Renungan hari keduapuluh tiga….

One thought on “Tidak Ada Waktu Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s