Tukang Becak

Standar

Saya ingin mengucapkan permohonan maaf sebesarnya kepada teman-teman yang sering berkunjung ke blog untuk membaca renungan ramadhan yang saya tulis, karena sejak beberapa hari lalu, banyak kesibukan yang menyita waktu. Tetapi selalu muncul dalam ingatan tentang “kewajiban” menulis renungan di tengah-tengah kegiatan padat setiap hari.

Tulisan terakhir adalah renungan di hari keenam belas, berarti sudah hampir sepuluh renungan yang terlewatkan. Saya akan menyicilnya dalam hari-hari liburan ini, semoga Allah memudahkan.

Sekitar empat atau lima hari yang lalu, saya berangkat ke Solo bersama seorang mahasiswa. Kepergianku ke sana untuk bertemu dengan sensei yang akan mengunjungi pabrik-pabrik gula di Madiun dan saya akan menjadi guide-nya. Karena kebetulan masa bersekolah dulu, saya tinggal di pabrik gula di Madiun, maka saya sedikit tahu tentang liku-likunya.

Kami tiba di Solo sudah cukup malam, dan rencananya akan naik taksi untuk menuju rumah teman yang tinggal di Kusumodilagan, Solo. Di tengah menunggu mahasiswi yang sedang pergi ke toilet, tiba-tiba saya didatangi bapak tua yang ternyata seorang tukang becak. Dia menawarkan becaknya. Saya tunjukkan alamatnya, dan bapak tukang becak menyebutkan sebuah angka rupiah, dan menjelaskan bahwa tempat yang dituju kurang lebih 30 menit naik becak dari terminal. Saya cenderung naik taksi sebenarnya karena pertimbangan waktu. Namun, mahasiswi saya ternyata agak kurang enak badan, dan memilih untuk naik becak saja. Maka kamipun menyusuri lorong gelap belakang Terminal Tirtonadi, tempat parkir beberapa becak. Beberapa pengemudi becak berkemul sarung dan tidur di becaknya. Bapak tukang becak yang menemani kami sebenarnya sudah mengunci becaknya, dan mungkin bermaksud beristirahat juga. Tetapi dia memilih melanjutkan kerja ketimbang terlelap.

Perjalanan ke rumah teman kami cukup panjang rasanya. Kadang-kadang melewati tanjakan, yang membuat tukang becak terengah. Saya berusaha duduk tidak menyender untuk meringankan beban si bapak. Dalam hati saya berdoa, semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya kepada bapak tukang becak ini. Setelah sedikit bertanya, sampailah kami di rumah teman. Saya turun dan merasa kasihan melihat bapak tukang becak banjir keringat. Saya ucapkan terima kasih sedalamnya dan memberikan uang ongkos yang dimintanya semula. Saya kira ongkos yang dimintanya terlalu sedikit, dibandingkan dengan usahanya mengayuh, maka saya tambahkan sejumlah uang, dan beliau menerimanya dengan ucapan terima kasih berkali-kali.

Bapak tukang becak memberikan pelajaran kepada kami tentang sebuah keikhlasan bekerja dan berusaha. Siang hari diciptakan oleh Allah bagi manusia agar diisi dengan aktivitas kerja, dan malam hari diciptakan untuk beristirahat. Tetapi adakalanya, manusia terpaksa bekerja di malam hari dan mengganti istirahatnya di malam hari.Saya yakin bapak tukang becak tadi bekerja siang dan malam, dan hanya istirahat sekejap saja di malam hari.

Dengan siang yang terang benderang karena matahari yang bersinar sedemikian kuatnya, maka manusia-manusia menjadi bersemangat untuk bekerja. Malam hari yang dibuat gelap, menyulitkan pandangan manusia, dan metabolisme tubuh kita memang cenderung melemah, dan mengharapkan istirahat setelah pengurasan energi di siang hari.

Tetapi, saya kira bapak tukang becak melakukan hal itu karena desakan kebutuhan. Dalam hari-hari menanti kedatangan Iedul Fithri, tentunya ada anak dan istrinya yang menunggunya di rumah. Mengharapkan sedikit penganan yang lebih baik dan pakaian yang lebih bagus daripada hari-hari biasa.

Dorongan memenuhi nafkah keluarga yang menjadi kewajiban pemimpin keluarga, memaksa beberapa orang untuk tetap bekerja di malam hari. Saya pun sama dengan bapak tukang becak, harus lembur malam hari. Tetapi kami barangkali berbeda alasan. Karena kami bekerja bukan atas desakan nafkah, tetapi atas desakan tugas yang penyelesaiannya harus disegerakan.

Bekerja di malam hari pada bulan Ramadhan adalah pertanda kesulitan menyediakan waktu untuk beribadah. Untuk keperluan kuliah pembekalan nilai-nilai perjuangan Diponegoro untuk mahasiswa baru di UNDIP, saya sudah lembur dua hari dua malam. Sehari, saya dan mahasiswi menginap di kampus, dan sehari lagi terpaksa kami tidak tidur di Solo. Tentu saja sholat tarawih tetap kami lakukan, tetapi hanya sedikit lembaran Al-Quran yang terbaca.

Kami tidak bisa meniru Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang bekerja pada 11 bulan, dan menyisakan ramadhan hanya untuk memperbanyak ibadah. Karena tidak ada libur selama ramadhan, maka otomatis 12 bulan adalah hari kerja bagi kami. Bapak tukang becak pun demikian. Hari-hari setahun adalah hari kerja baginya. Tetapi mudah-mudahan kami tetap disayang oleh Allah, sehingga tak sedikitpun kami dilupakan untuk mengejar pahala ramadhan. Amin.

Renungan hari ketujuh belas….

One thought on “Tukang Becak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s