Menempati Rumah Baru

Standar

Alhamdulillah, setelah menunggu cukup lama, saya akhirnya diberi amanah oleh Allah untuk memiliki rumah. Sekalipun kecil, tetapi sudah sangat memadai untuk saya. Tanggal 2 Juli, saya pulang dari Jepang, dan hari Ahad, 7 Juli saya mulai menempati rumah tersebut.

Rumah di dalam Islam  bukan saja tempat untuk tidur dan bernaung dari panas matahari dan berteduh dari hujan yang menetes, tetapi rumah adalah tempat untuk menjadikan seorang hamba lebih bertakwa kepadaNya melalui jalan ibadah.

Karenanya mulai dari melangkahkan kaki memasukinya, dianjurkanlah kita untuk menyebut AsmaNya dan membaca :

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Sungguh atas kehendak Allah, ini semua bisa terwujud, dan tidak ada kekuatan, kecuali kekuatan Allah(QS Al-Kahfi : 39)

Bacaan tersebut menyadarkan kita akan kebesaran dan karuniaNya yang Maha Tak Berbatas. Manusia boleh jadi bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah, tetapi itu semua tidak akan berguna dan bermanfaat baginya apabila Allah tidak meridhoinya. Maka sungguh wajarlah kita mengucapkannya tatkala mendapati nikmat Allah yang diberikanNya kepada kita.

Karena rumah menjadi tempat terbaik kita bermunajat kepada Allah, maka sangatlah dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, sholat sunnah, dan memperbanyak bacaan Surat Al-Baqarah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

 Ketika memasuki dan berada di dalam rumah, maka perbanyaklah doa, karena selain menjadi tempat tinggal manusia, rumah juga dapat menjadi kediaman makhluk yang lain. Dan hanya kepada Allah kita berlindung atas gangguan makhluk tersebut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ

“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka setan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran agar rumah tak dimasuki setan.

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Tutuplah pintu, dan sebutlah nama Allah. Karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup (yang disebut nama Allah).” (HR. Bukhari 3304, Muslim 2012 dan yang lainnya)

Dan ketika melangkahkan kaki keluar rumah, maka percayakanlah penjagaan dan keamanan rumah kepadaNya dengan membaca :

بسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Tentu saja manusia perlu mengusahakan keamanan rumahnya juga dengan misalnya memasang pagar, mengunci pintu dan jendela sebagai ikhtiarnya, dan doa serta permintaan kepada Allah adalah yang paling kuat dampaknya.

Rumah adalah tempat datangnya rahmat dan rizki bagi hamba yang menempatinya. Oleh karena itu harus diperhatikan kaidah Islam tentang rumah. Salah satunya adalah larangan memasang patung, gambar orang, dan bentuk lain yang menyerupai makhluk bernyawa, karena malaikat pembawa rahmat enggan memasuki rumah tersebut.

Hal lain, larangan untuk memasang lonceng, karena itu adalah musik setan. Memperbanyak rumah dengan suara-suara merdu bacaan Al-Quran, dan bukan musik-musik yang akan membawa pada senda gurau dan kealpaan mengingat Allah.

Manusia tinggal di rumahnya tidaklah seorang diri. Ada banyak orang yang berada di sekitarnya dan telah berjasa membuatkan rumahnya. Oleh karena itu, sepatutnya dia menyelenggarakan syukuran rumah yang sering disebut Al-Wakirah. Dapat dilakukan dengan mengundang para tetangga dan orang yang berjasa untuk makan-makan di rumah, dan jika tak dapat pula membagikan makanan kepada para tetangga sambil sekalian berkenalan dengan mereka.

Membawakan para tetangga makanan memberikan dampak yang sangat besar dalam diri. Dari kunjungan tersebut kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita, dan meninggalkan kesan dan rasa syukur yang mendalam.

Demikianlah, menempati rumah baru perlu dipahami sebagai membina sebuah tempat menambah ketakwaan kepadaNya.

Renungan hari kedua, ramadhan 1434 H

One thought on “Menempati Rumah Baru

  1. winda

    Alhamdulillah, senang bs mdpt ‘tadzkirah’ dari sini. Moga sy & keluarga bisa lebih terbiasa dengan doa2, dzikir, tilawah & ibadah lain dalam keseharian.
    Boleh berkenalan? Mohon dibalas jika berkenan. Syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s