Masih disayang Allah

Standar

Pernahkah kita memikirkan untuk sesekali berbuat kejahatan? Barangkali hanya orang yang kurang kerjaan saja yang akan melakukan hal itu. Tetapi kadang-kadang seseorang berada dalam dilema yang pada akhirnya mengantarkannya pada perbuatan dosa.

Untuk menyelematkan diri dari aib dunia, gampang saja manusia berbohong. Supaya tidak diceramahi oleh dosen, mudah saja mahasiswa berdusta. Agar tidak dipandang sebelah mata oleh tetangga, cepat saja seorang ibu berbual. Bahkan supaya bos senang, ringan sekali anak buah memuji-mujinya.

Apabila seseorang dengan mudahnya terperosok dalam perbuatan maksiat, dan sama sekali tidak ada penentangan dalam hati kecilnya, maka bukankah patut dia untuk mawas diri bahwa Allah tidak mendatangkan rahmatNya kepadanya?

Jika kasih sayang Allah tidak ada, maka tangan, kaki, hati, otak akan dengan mudah melakukan kejahatan. Namun, jika masih ada perlawanan, bisikan larangan untuk berbuat jahat, maka insya Allah, Allah menyayangi kita.

Begitulah yang dikisahkan dalam kisah-kisah sahabat Nabi SAW tentang seorang yang masuk Islam padahal dulunya dia ada seorang kriminal. Ketika dia bertanya apa yang harus dilakukannya sesudah berislam? Nabi memintanya untuk tidak berbohong.

Dipikirnya perkara itu adalah perkara yang gampang, namun menjaga diri untuk tidak berbohong adalah upaya berat. Dalam proses keimanannya selanjutnya, banyak sekali godaan yang mengajaknya untuk berbohong. Katanya,

“Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah itu.”
Tetapi setiap kali hatinya condong pada kejahatan, hati kecilnya terus mengejek.
“Berani engkau berbuat jahat. Apakah jawapan kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah. Sanggupkah engkau berbohong kepadanya” bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan setiap kali pulalah hatinya berkata :”Kalau aku berbohong kepada Rasulullah bererti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku bercakap benar bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam. Oh Tuhan….sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga.”

Demikianlah, dia sangat beruntung karena Allah menyayanginya, sehingga lepas badan dan jiwanya dari perbuatan dosa.

Ya, Allah karuniakan kasih sayangMu kepada kami, agar tak melangkah kaki, tangan, hati, pikiran dan nafsu kami pada kemaksiatan. Amin

Renungan hari keenambelas….

 

One thought on “Masih disayang Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s