Menahan Amarah

Standar

Puasa sudah berjalan mendekati hari keduabelas, adakah perubahan berarti dalam diri kita?

Saya, hampir sama dengan orang lain yang belum mampu menahan amarah, belum mampu berhenti dari menggunjing, belum rutin memperbanyak ibadah, sebagaimana sahabat yang menghabiskan hari-harinya di masjid.

Kadang-kadang orang yang sudah banyak membantu, melakukan kesalahan. Mahasiswa yang sudah diperingatkan berkali-kali, masih juga membandel, atau teman sekantor yang dengan gampangnya mengabaikan kepercayaan yang kita berikan, dan seribu macam alasan yang bisa “mengeluarkan tanduk di kepala”.

Amarah adalah keberhasilan dan kesenangan setan. Tatkala seorang manusia tak mampu menahan amarahnya, maka bersoraklah mereka atas kesuksesannya menjerumuskan manusia. Sementara manusia tidak menyadari kegembiraan musuh mereka.

Sebenarnya jika dipikir dengan matang, maka amarah semestinya tidak perlu keluar, apabila seorang hamba memiliki kerendahan hati untuk melakukan tabayyun, yaitu suatu ikhtiar untuk mencari penjelasan yang sesungguhnya.

Membiasakan diri untuk senantiasa mencerna permasalahan dengan kepala dingin adalah sebuah tindakan yang dapat mengantarkan pada sikap menahan amarah. Sayangnya, kita sepertinya dikuasai oleh banyak setan, dan hanya sedikit malaikat. Malaikat tidak mendekati kita karena kurangnya ibadah dan lemahnya penghambaan kepada Allah, padahal Dia-lah yang memerintahkan para malaikat.

Allah berfirman,

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali ‘Imran:134)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya

Marah memanglah sebuah sifat alami, bahkan Rasulullah mengakuinya sebagai sifat manusia, tetapi sebaliknya beliau pun menyampaikan bahwa menahannya adalah tindakan terpuji.

Setelah marah, manusia dilanda oleh penyesalan, karena tindakannya yang tidak dipikirkan dengan matang. Tetapi apalah artinya penyesalan jika amarah kita telah menyakiti dan menyinggung perasaan sesama manusia?

Wallahu a’lam bisshawab

Renungan hari keempat Ramadhan 1434 H

One thought on “Menahan Amarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s