Belajar sepanjang hayat

Standar

Setiap pagi saya mengikuti pengajian shorogan di masjid Payung Asri. Kegiatan ini mengingatkan saya pada kegiatan shorogan yang pernah saya lakukan di Nagoya. Kelompok shorogan kami berlangsung dari rumah ke rumah.Setelah beberapa bulan berjalan, saya terpaksa harus menghentikannya karena tanah air memanggil.

Shorogan adalah mengartikan ayat Al-Quran per kata. Metode ini dipakai di pesantren di Indonesia. Semasa menjadi santri dulu, setiap subuh kami diharuskan melakukannya hingga lama-lama hafallah kami dengan makna kata per katanya. Berbekal ilmu di pesantren inilah, saya pernah diminta mengajari shorogan ibu-ibu berusia lanjut di Bogor, ibu-ibu muda, dan juga para mahasiswa. Alhamdulillah Allah mengekalkan ingatan terhadap makna ayat-ayat Al-Quran sehingga dapat menyebarkan kebagusan dan keindahan artinya.

Sejak kembali dari Jepang, saya belum pernah bertemu dengan majlis shorogan hingga saya dapati ibu-ibu berumur lanjut berkumpul setiap shubuh di masjid kami. Dari pembicaraan seorang Ibu, saya ketahui majlis shorogan sudah dimulai sejak setahun yang lalu. Ayat-ayat yang dibaca pun sama. Tetapi semakin banyak belajar, semakin banyak pula yang lupa.

Allah mengangkat kemampuan mengingat manusia pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya usia. Seumuran saya, semestinya semakin melemah daya hafalan, tetapi alhamdulillah berkat pembelajaran dan didikan di pesantren dulu, saya masih ingat beberapa kata dalam Al-Quran.

Ibu-ibu yang saya temui pagi ini mengeluh karena mereka tidak hafal-hafal dan banyak lupa. Berulang kali ustadz mengingatkan bahwa ini sudah pernah kita bahas, ini sudah muncul di awal ayat, dll. Namun, ibu-ibu tetap kesulitan mengingat.

Saya usulkan agar ibu-ibu diberi kesempatan membacanya satu per satu. Dengan membaca sendiri, saya kira akan cukup ampuh untuk membantu mereka mengingatnya pelan-pelan daripada metode membaca bersama-sama.

Manusia bersiklus sebagaimana makhluk lainnya. Dari bayi yang tidak bisa apa-apa berkembang menjadi anak-anak dengan kemampuan mengingat sangat baik, lalu tumbuh menjadi remaja yang daya ingatnya lebih baik, dan setelah menjadi dewasa, daya ingatnya berkurang. Lalu ketika dia menjadi tua, ingatannya kembali seperti bayi.

Namun Allah tidak menciptakan manusia seperti itu semuanya. Ada beberapa hambaNya yang dianugerahi ingatan yang baik sekalipun telah memasuki masa uzur. Beberapa orang responden penelitian saya berusia di atas 75 tahun, tetapi subahanallah, mereka masih diberi daya ingat yang baik. Sekalipun Allah mulai mengaburkan penglihatannya dan sedikit mengurangi pendengarannya. Mereka juga adalah orang-orang yang menjadikan membaca sebagai kegiatan rutinnya.

Namun, alangkah mirisnya karena majlis shorogan kami hanya dihadiri orang-orang tua. Anak-anak muda tak tertarik dengannya kecuali jika dia memang tinggal di pesantren. Padahal sekali orang mempelajari Al-Quran dan bisa memahami sedikit artinya, maka Allah akan mengikatkan hatinya dengan Al-Quran.

Lalu ke mana perginya orang-orang muda di kala pagi?

Mereka harus berburu dengan waktu untuk memulai aktivitas dunia di pagi hari.

Renungan hari kelimabelas…

 

 

One thought on “Belajar sepanjang hayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s