Kuburan

Standar

Setiap bulan saya selalu pulang ke rumah di Madiun. Berbeda dengan ketika saya tinggal di Jepang, susah sekali menengok mamak dan bapak, maka sekarang karena tinggal di Semarang, saya bisa menyempatkan pulang sekali sebulan. Setiap kali pulang pula saya selalu berkunjung ke makam alamarhum bapak, sekalipun adik-adik kadang-kadang sering menegur kenapa terlalu sering ke sana.

Saya bukan pencinta kuburan. Tetapi sering sekali berpikir bapak kesepian di sana, dan dia merasa gembira jika ada yang mengunjunginya. Atau barangkali karena saya tidak sempat bertemu bapak terakhir kali sebelum beliau dimasukkan ke liang lahat. Saya hanya menjumpai gundukan tanah ketika mendarat di tanah air seminggu setelah kematian bapak.

Kuburan bagi saya bukan tempat yang keramat, sekalipun kadang-kadang di pekuburan yang saya kunjungi banyak orang meletakkan wewangian.Kalau datang ke kuburan bapak, tidak ada yang kami lakukan selain merapikan rumput yang menutupi kuburannya dan juga berdoa agar Allah senantiasa meringankan siksa kuburnya dan menerima segala amalannya.

Masyarakat Indonesia sekalipun telah berpendidikan tinggi masih banyak yang mempercayai kuburan atau orang yang mati memiliki kekuatan. Padahal sejatinya tidak. Mereka di alam sana sedang menunggu masa datangnya hari perhitungan dan pembalasan. Maka yang dosanya sedikit akan seperti tidur menunggunya. Dan yang dosanya banyak akan mengalami siksa kubur. Mereka juga menghadapi masalah di alam sana. Karenanya secara logika tidak mungkin membantu orang yang masih hidup.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati sebuah tembok di Madinah atau Makkah lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa dalam kubur mereka, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :” Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa dan tidaklah mereka disiksa karena satu perkara besar, kemudian beliau berkata : benar karena perkara besar, yaitu satu seorang dari mereka tidak menjauhi manusia atau tidak bersih ketika buang air kecil, dan yang lain selalu mengadu domba, lalu beliau meminta pelepah kurma dan membelahnya dan meletakkannya pada setiap kuburan, lalu beliau ditanya : Kenapa anda melakukan itu Ya Rasulullah ? Beliau berkata : “Mudah-mudahan mereka diringankan siksanya selama pelepah itu masih basah”
(HR Imam Bukhari dan Muslim).

Pekuburan di Indonesia ramai sekali pada saat menjelang bulan Ramadhan. Saya tidak tahu dari mana budaya ini berasal. Saking ramainya pengunjung pada bulan ini, kami biasanya tidak datang mengunjungi makam bapak pada awal ramadhan. Tidak ada waktu khusus untuk mengunjunginya. Namun kami selalu ke sana jika teringat rumput-rumputnya mulai memanjang.

Kuburan bapak tidak kami bangun. Tidak ada tembok yang membatasinya, juga tidak atap yang menaunginya. Hanya rumput hijau yang menutupi gundukan tanah kuburannya. Kami mencoba mengikuti sunnah Rasulullah SAW untuk tidak membangun dan memegahkan kuburan. Semoga amal jariah bapaklah yang dipandang Allah kelak, sehingga akan diterimakan kitab catatan amalnya di tangan kanannya. Amin.

Renungan hari keduabelas….


One thought on “Kuburan

  1. Ping-balik: Kuburan « Berguru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s