Mengalah

Standar

Setiap kali saya naik angkot pulang ke Payung Asri, saya pasti sport jantung saat hendak menyeberang jalan. Hampir tak ada kendaraan yang mau mengalah dan semuanya melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak ada jembatan penyeberangan yang terdekat, tidak ada lampu merah yang mampu menahan laju kendaraan tersebut. Yang saya lakukan hanya berdoa.

Doa orang yang berpuasa dalam keadaan terjepit insya Allah diijabah. Dan memang demikian, tiba-tiba saja jalan menjadi sepi dari kendaraan, sekalipun dari kejauhan tampak kendaraan yang mungkin akan segera menghampiri. Saya berlari menyeberang separuh jalan dan dengan kaki gemetar menunggu kesempatan menyeberang separuh jalan lagi. Ah, mengapa tak ada yang mau mengalah.

Mengalah bisa menjadi sifat terpuji dan bisa pula menjadi tercela. Dalam pertandingan olahraga atau seni, orang yang mengalah sebelum bertanding tentu dicap jelek. Tetapi mengalah untuk memberikan kesempatan orang menyeberang jalan seperti contoh di atas adalah perilaku baik.

Penyebab kesemrawutan jalan raya di tanah air adalah keengganan untuk mengalah dari para penggunanya. Semuanya ingin lebih cepat sampai, semuanya ingin mendahului. Menjadilah jalan raya bising dengan suara klakson.

Mengalah dekat dengan sifat sabar. Orang yang bisa menahan diri untuk tidak mengutamakan kepentingannya adalah orang yang sabar memberi kesempatan kepada orang lain.  Sayangnya sulit sekali menjadi sabar.

Tak jarang kita mengantri menunggu pelayanan kasir di sebuah pusat perbelanjaan. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang menyodok dan maju mendahului kita. Apa yang harus dilakukan? Kita dihadapkan pada dua pilihan yang kedua-duanya baik, yaitu mempersilakannya maju atau mengingatkannya. Tentu saja ketika mengingatkan perlu menanyakan dengan baik, apakah beliau terburu-buru atau tidak. Jika beliau terburu-buru bukankah beliau layak didahulukan? Tetapi jika beliau santai saja, jelaskan jika Anda yang terburu-buru, dan sudah mengantri sedari tadi. Namun, jika kita ikhlas mendahulukannya, maka Allah akan mempermudah urusan kita kelak.

Allah memuji orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya dalam QS Al-Hasyr:9

59:9

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. 59:9).

Renungan hari kesepuluh….

 

 

 

 

One thought on “Mengalah

  1. Ping-balik: Mengalah « Berguru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s