Ke mana perginya harta kita ?

Standar

Kalau kita mendapatkan rizki, harta, gaji, bonus, maka apa yang kita pikirkan tentang penggunaannya? Siapa yang muncul di dalam benak yang berhak mencicipi harta tersebut? Jika seorang suami yang ditimpa kemurahan tersebut, maka tentulah anak dan istrinya yang dia pikirkan. Atau barangkali garasinya yang masih kosong. Atau rumahnya yang belum terenovasi. Jika seorang bujangan yang mengalaminya, maka pastilah impian memiliki sesuatu yang ingin diwujudkannya yang terpikirkan di kepalanya.

Namun apa yang terjadi apabila ini menimpa sahabat Rasulullah SAW? Berikut kisahnya. Saya kutipkan dari sini.

Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala` buku pertama berkata, Malik ad-Dar, pembantu Umar bin al-Khattab menyampaikan bahwa Umar menyiapkan empat ratus dinar. Umar berkata kepada pembantunya, “Bawalah uang ini, berikanlah kepada Abu Ubaidah kemudian tunggulah sesaat agar kamu bisa melihat apa yang dilakukannya.” Pembantu tersebut berangkat, sampai di rumah Abu Ubaidah, dia berkata, “Amirul Mukminin berkata kepadamu, ‘Terimalah ini’.” Sambil dia menyodorkan uang tersebut. Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah menyambung dan merahmatinya.” Lalu Abu Ubaidah berkata kepada pembantunya, “Wahai pelayan, berikanlah tujuh dinar ini kepada fulan, berikanlah lima dinar ini kepada fulan…” sehingga uang tersebut tidak tersisa.

Pembantu Umar pulang dan dia memberitahu Umar apa yang dilakukan oleh Abu Ubaidah, pada saat itu pembantu Umar melihat Umar telah menyiapkan uang dalam jumlah yang sama, Umar berkata kepada pembantunya, “Pergilah, berikanlah ini kepada Muadz bin Jabal, tunggulah sesaat dan lihatlah apa yang dilakukannya.” Pembantu Umar pergi, sampai di rumah Muadz, dia berkata, “Amirul Mukminin berkata kepadamu, ‘Terimalah ini’.” Sambil dia menyodorkan uang tersebut. Muadz menjawab, “Semoga Allah menyambung dan merahmatinya.” Muadz memanggil pelayannya, “Pelayan, berikanlah sekian kepada keluarga fulan, sekian kepada keluarga fulan…” Manakala uang yang tersisa tinggal dua dinar, istri Muadz bersuara, “Demi Allah, kami juga miskin, berikanlah bagian kami.” Maka Muadz menyodorkan dua dinar tersebut kepadanya.

Pembantu Umar pulang dan memberitahu Umar tentang apa yang dilakukan oleh Muadz. Umar berbahagia dengan itu, dia berkata, “Mereka adalah saudara, sebagian dari sebagian yang lain.”

Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala` buku pertama berkata, Thalhah bin Ubaidillah menikah dengan Ummu Kultsum binti ash-Shiddiq, suatu hari Thalhah mendapatkan uang dari Hadramaut sebesar tujuh ratus ribu dirham, uang sebesar ini membuat Thalhah tidak tidur malam itu. Istrinya bertanya, “Ada apa denganmu?” Thalhah menjawab, “Aku berpikir sejak tadi, apa dugaan seseorang kepada Tuhannya, dia bermalam sementara harta sebesar ini ada di rumahnya?” Istrinya berkata, “Apakah kamu lupa terhadap sahabat-sahabat dekatmu, esok hari siapkan piring dan nampan, bagikanlah harta tersebut kepada mereka.” Thalhah berkata, “Semoga Allah merahmatimu, kamu memang wanita yang diberi taufik, putri laki-laki yang diberi taufik pula.” Di pagi hari Thalhah menyiapkan piring-piring dan dengannya dia membagi harta tersebut di kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar, Thalhah memberi Ali satu piring. Tiba-tiba istrinya berkata, “Abu Muhammad, apakah kami tidak memiliki bagian dari harta tersebut?” Thalhah menjawab, ”Di mana saja kamu sejak hari ini? Sisanya itu menjadi urusanmu.” Harta yang tersisa di kantong adalah seribu dirham.

Mengapa sahabat Rasulullah memiliki perilaku sedemikian baiknya? Kita harus menengok bagaimana Rasulullah yang menjadi teladan para sahabat memberikan contoh yang lebih baik pula.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Uqbah bin al-Harits berkata, Aku shalat Asar di belakang Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah, setelah salam Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri dengan terburu-buru melangkahi pundak hadirin pergi ke kamar salah seorang istrinya, orang-orang heran karena keterburu-buruan beliau. Beliau kembali dan mengetahui bahwa orang-orang heran, beliau bersabda, “Aku teringat akan sepotong emas yang ada padaku, aku tidak suka ia menghalang-halangiku.” Maka Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta agar ia dibagikan.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Amru bin Auf al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyahnya, Abu Ubaidah pulang membawa harta, orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, mereka hadir pada shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selesai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak dari tempatnya maka mereka mencegatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum ketika melihat mereka, kemudian beliau bersabda, “Menurutku kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah pulang membawa sesuatu.” Mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Bergembiralah kalian dan berharaplah apa yang membahagiakan, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dilapangkannya dunia untuk kalian sebagaimana ia dilapangkan atas orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba padanya seperti mereka berlomba-lomba padanya, akibatnya kalian binasa seperti mereka binasa.” Semoga Allah melindungi dari kebinasaan akibat berlombah-lomba pada dunia.

Demikianlah kehidupan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Pantas saja Allah menjanjikan mereka dengan surga. Tetapi bukan berarti kita tidak dapat melakukannya. Jika ada tekad dan niat keikhlasan, Allah akan memudahkan dan memantapkan hati kita untuk melakukannya.

Ayo berbagi !

Renungan hari kesebelas…. 

5 thoughts on “Ke mana perginya harta kita ?

  1. SUBHANALLAH….
    sungguh,ini adalah sikap yang mulia dari orang-orang yang mulia,lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri dan tidak cinta dunia,apatahlagi hanya untuk sekedar menumpuk-numpuk harta untuk kepentingannya sendiri dan sebagai alat kebanggaan? semua ini JAUH bagi sahabat radhiallahu anhu ajma’in. bahkan dalam catatan sejarah mereka justru menghabiskan harta dijalan Allah demi dan untuk tegaknya Agama Allah & keridhaanNYA. untuk itu semua Harta dan Nyawa siap untuk dikorbankan. Allahu Akbar..
    .ini adalah bukti nyata buah tarbiyah dari manusia yang termulia yang pernah diutus oleh Allah subhanahu wata’ala diatas permukaan bumi ini-adalah Rasulullah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
    wuhh…sahabat adalah kelompok manusia yang paling beruntung,telah dipilih oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mendampingi RasulNYA-berjuang untuk menyampaikan amanah,menyebarkan risalah,dan berjihad dijalan Allah subhanahu wata’ala.
    mereka mendapat gemblengan langsung dari manusia termulia, segala perkara yang mendatangkan kemaslahatan telah disampaikannya dan segala perkara yang mengakibatkan kemudharatan juga telah di-ingatkan-nya,malamnya bagaikan siang,tiada yang samar,terang benderang. semua respek,mereka meyakini & menerima kebenaran “Sami’na wa atha’na” KAMI DENGAR DAN KAMI TA’AT. dan berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan yang telah diketahuinya itu,
    ALLAHU AKBAR……
    pantaslah mereka mendapat pengakuan dan pengukuhan dari Allah Rabbul ‘alamin. “ALLAH TELAH RIDHA KEPADA MEREKA, DAN MEREKAPUN TELAH RIDHA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.& ALLAH TELAH BERJANJI KEPADA MEREKA UNTUK MEMBERIKAN SURGA YANG TINGGI YANG DIBAWAHNYA MENGALIR SUNGAI-SUNGAI, MEREKA KEKAL DIDALAMNYA SELAMA-LAMANYA.

    lantas, akankah kita menyamai kedudukan mereka?
    mereka telah bekerja,
    mereka telah berkorban,
    mereka telah merasakan pahit getirnya dalam perjuangan.
    nama-nama mereka telah tertulis indah dalam catatan tinta emas sejarah.
    bahkan mereka telah mendapat pengakuan dari penciptaNYA,
    Allah Ridha kepada mereka,dan merekapun ridha kepada Allah.

    sekian komentar dari saya hamba Allah yang fakir ilallah.
    wallahu ta’ala a’lam.

  2. saat itu keadilan dan hari depan telah pada posisi yang terang benderang, masa kejayaan islam, masa2 kebenaran akhlak dan janji Tuhan nyata di depan mata. sedangkan saat ini, islam tidak pada posisi sedemikian terang, islam telah ditutupi gelap kapitalisme dan neo-kolonialisme, masa depan tidak dapat diprediksi, jadi sepantasnya uwang akan digunakan pada dan ke orang2 yang tidak jelas masa depannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s