Kesantunan dan Ketawadhuan Orang Kecil

Standar

Kesantunan dan ketawadhuan sebenarnya tidak mengenal golongan. Dia bisa dimiliki oleh orang kaya, bisa pula orang-orang kecil. Tetapi barangkali sudah menjadi hal yang jamak, bahwa kelebihan harta membuat manusia merasa lebih dibandingkan yang lainnya sehingga mencegahnya dari sikap santun. Posisi yang tinggi melegalkan seseorang untuk berbicara seenaknya kepada orang yang lebih rendah. Harta dan jabatan menyebabkannya tidak ingat keharusan bertawadhu.ย 

Tetangga saya di Madiun berganti-ganti dari tahun ke tahun. Ada juga keluarga yang sedari dulu tetap menjadi keluarga kami. Salah satu pendatang yang tergolong baru di komplek kami adalah sebuah keluarga etnik Cina dengan dua anak perempuan, dan seorang anak laki-laki yang lucu-lucu. Si kecil anak laki-laki sering datang ke rumah kami diajak oleh pembantunya untuk memberi makan ayam-ayam peliharaan adik saya. Lalu, kedua anak perempuan cantik kadang bermain di depan rumahnya dan kalau kami lewat mereka akan sibuk berdadah-dadah sambil melambaikan tangan.

Pembantu tetangga kami itu pun adalah orang yang sangat baik. Suatu kali mamak memberikan kepadanya jubah dan beberapa pakaian muslim layak pakai. Kata mamak, tampak sekali kegembiraan di wajahnya dan berkali-kali beliau mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jawa yang halus. Dan sekalipun mamak tidak mengharapkannya, pembantu tadi sering sekali datang mengantarkan penganan kecil dari desa untuk mamak. Hubungan mamak dengannya seperti orang yang sudah kenal lama. Bahkan saat beliau menikahkan putrinya, mamak diundang ke sana.

Kalau pulang kampung ke Madiun, saya kadang kala tidak turun di terminal, dan lebih suka memilih becak, sekalipun memang naik taksi akan lebih nyaman, tidak panas dan sampai lebih cepat. Tukang-tukang becak yang menunggu di tepi-tepi jalan akan berebut menghampiri dan menawarkan becaknya. Saya biasanya malas menawar, jika Pak tukang becak sudah menyampaikan satu harga, dan menurut nalar saya itu normal, maka saya akan meng-Ok-kannya.

Suatu kali saya naik becak dari alun-alun Madiun menuju rumah. Jarak tempuh lumayan jauh dan waktu itu sudah sore, tetapi matahari masih bersinar kuat. Saya menikmati suasana sore kota di atas becak sambil sesekali meneruskan bacaan buku yang belum kelar terbaca di bus tadi. Kira-kira setengah jam, kami tiba di depan rumah dan saya mengangsurkan uang sesuai dengan harga yang ditetapkan Pak Tukang Becak, dan beliau menerimanya sambil membungkuk-bungkuk sambil berkata, “matur sembah suwun, Bu” berkali-kali. Saya pun membungkuk sambil berucap, “sami-sami, Pak”.

Pernah pula saya dibonceng oleh seorang mahasiswa untuk mencari rumah seorang kawan. Karena kami tersesat, lalu berhentilah kami di sebuah pos jaga yang duduk-duduk beberapa orang bapak di sana. Mahasiswa saya menghentikan motor dan langsung bertanya alamat yang kami cari. Si Bapak yang kami tanya mengingatkan, “matikan dulu motornya, lalu tanya, Mbak” Dalam hati saya membenarkannya, sebab demikianlah adab yang benar seharusnya.

Para pelanggan bis AC tarif biasa dari Madiun ke Solo, pastilah akan dihibur oleh banyak pengamen yang hilir mudik naik ke bis. Di antara mereka ada yang sangat santun mengamen, tetapi ada pula yang agak kurang sopan. Saya biasanya menyiapkan uang receh, sekalipun adik saya selalu melarang memberikan uang untuk mereka karena dengan pemberian tersebut, kemiskinan tidak akan bisa teratasi. Sebenarnya alunan suara mereka tidak terlalu menghibur, sebab saya selalu mengenakan iPod di telinga. Tetapi lumayan juga jika ada yang menyanyikan campur sari gending Jawa, atau lagu keroncong tanah airku yang bisa membuat kantuk๐Ÿ™‚.

Dalam soal beri-memberi uang sebenarnya hal yang lumrah saja, tetapi ketika pulang terakhir kemarin dari Madiun, ada seorang pengamen yang membuat saya terkesan. Setelah selesai “bertugas”, dia berkeliling menadahkan topinya sebagai kotak uang dan setiap kali menerima uang, beliau mengatakan, “kulo tampi, matur nuwun” (bahasa Jawa halus yang artinya saya terima).ย Bukankah ucapan itu sama dengan akad yang seharusnya diucapkan untuk membuat sah sebuah jual beli? “Saya terima barangnya” dan “Saya terima uangnya”.

Biasanya dalam perjalanan ke Semarang saya selalu menyempatkan berhenti di terminal Solo untuk menunaikan sholat di masjid terminal. Tak jarang di sana saya temui penjual-penjual gorengan, pengamen yang sedang sujud, merendahkan dirinya kepada Sang Khalik. Pada saat adzan dhuhur berkumandang, pelataran masjid akan penuh dengan jamaah, pertanda masih tinggi kesadaran orang-orang kecil untuk beribadah.

Pernah saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan tentang agama-agama di Indonesia di Jepang. Saya kumpulkanlah foto-foto dari internet. Dalam pencarian di internet, saya temukan sebuah foto seorang ibu tua mengenakan mukenah putih sedang menunaikan sholat di tengah hamparan sawah yang menguning. Air mata saya menitik memandangnya. Saya iri pada keiikhalasan beliau beribadah kepadaNya.

Sungguh Allah mencintai orang-orang miskin yang senantiasa bersujud kepadaNya. Mereka adalah penghuni syurga yang sudah dijanjikan Allah.

 

ุนูŽู†ู’ ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ู ุญูุตูŽูŠู’ู†ูย ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽย ุงุทูŽู‘ู„ูŽุนู’ุชู ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงุทูŽู‘ู„ูŽุนู’ุชู ูููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูŽ

Dari Imran bin Hussien dari nabi SAW, beliau telah bersabda; Aku melihat ahli Syurga, sebahagian besar penghuninya adalah orang-orang miskin. Kemudian aku melihat neraka, kebanyakan penghuninya adalah perempuan (HR. Bukhari dan Muslim).

Renungan hari kesembilan…

3 thoughts on “Kesantunan dan Ketawadhuan Orang Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s