Penyayang Harta

Standar

Suatu kali saya diberi Allah rizki yang melebihi kecukupan jika menakarnya dari pengeluaran harian saya. Pernah pula Allah menguji saya dengan kekurangan harta. Jika merenungi masa 40 tahun yang telah saya lewati, alhamdulillah atas kehidupan di bawah, di tengah, dan di atas yang telah dikaruniakannya. Bawah, tengah atau atas adalah penilaian subyektif, maka boleh jadi yang saya sebut di atas adalah sebenarnya di bawah bagi yang lain.

Sepanjang itu pula Allah telah menguji saya dengan harta yang dititipkannya.Subuh ini air mata saya menitik mendengar seruanNya :

3:92

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran : 92)

34:39

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba 34:39).

Air mata itu barangkali karena saya merasa telah kalah dengan bujuk rayu syetan, yang setiap hari membiarkan kepala saya dipenuhi oleh kelezatan dunia saja. Mereka menghalangi manusia untuk bersedekah dengan harta yang paling dicintainya.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saya selalu menghitung zakat mal yang harus saya keluarkan menjelang ramadhan. Karena khawatir perhitungan saya salah, maka besaran zakat selalu saya lebihkan. Kira-kira empat hari menjelang ramadhan, alhamdulillah uang zakat mal sudah saya serahkan kepada sebuah pesantren.

Karena masih belum punya tempat yang mapan di Semarang, saya berencana membelanjakan sebagian harta untuk keperluan ini. Dengan uang yang ada, rumah yang dapat terbeli hanyalah rumah mungil yang layak untuk ditinggali. Tetapi kunjungan ke pesantren beberapa waktu lalu adalah pengalaman bathin yang tak terlupakan. Secara tiba-tiba muncul keinginan untuk memberikan sebagian tabungan itu kepada pesantren untuk dijadikan modal usaha pesantren. Pesantren tersebut setiap bulannya mengalami kesulitan karena sebagian santrinya adalah anak-anak dari keluarga tak berpunya. Saya dan pihak pesantren kemudian bersepakat menggunakan uang tersebut untuk dimanfaatkan dalam salah satu usaha sistem bagi hasil yang keuntungannya sepenuhnya diserahkan kepada pesantren.

Secara logika uang untuk membeli rumah berkurang, dan mungkin tidak lagi bisa dipakai untuk membeli rumah. Syetan tak henti-hentinya menggoda. Pikiran khawatir tentang impian rumah yang mungkin terbeli. Belum lagi teman-teman yang mengetahui saya akan membeli rumah setiap saat membujuk dengan berbagai iklan rumah.

Saya belum sekuat iman para sahabat yang mulia. Pernah sekali terbersit keinginan untuk membatalkan atau paling tidak mengurangi jumlah uang yang sudah disepakati. Sebenarnya bisa saja saya menelpon pesantren dan membatalkan kesepakatan tersebut (sebab uang belum saya serahkan). Tetapi pagi ini Allah telah memojokkan saya dan membuat diri ini menjadi sangat hina dengan ayat-ayatnya di atas.

Di antara kecintaan dunia yang diciptakan Allah untuk manusia adalah kecintaan pada hartanya. Karena mengira akan dapat menyelematkannya di dunia dan akhirat, maka banyak orang yang tidak rela berpisah dengan hartanya. Banyak orang yang menjadi penyayang uang, termasuk saya.

Semoga Allah menghilangkan kecintaan kepada harta dalam diri ini. Sehingga akan ringan hati dan akal hamba untuk meringankan beban orang lain, termasuk dalm perkara yang berikut ini :

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

Renungan hari keenam….

 

One thought on “Penyayang Harta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s