Sepinya Masjid pada Sholat Shubuh

Standar

Saya sudah berada di Semarang kemarin, dan pertama kali mengikuti sholat tarawih di Masjid Al-Muhajirin Payung Asri. Nama masjid sama dengan masjid di komplek rumah kami di Madiun. Tentunya Perumahan Payung Asri juga berisikan pendatang.

Sholat Isya dan tarawih kemarin malam cukup ramai dengan Imam yang bersuara merdu membacakan ayat-ayat yang lumayan panjang dari Al-Quran. Suaranya mengalahkan kegaduhan anak-anak kecil yang ramai bermain di taman masjid. Sayang sekali orang tua tidak mengajak anak-anaknya untuk berdiri di sampingnya sehingga keramaian bisa agak diredam.

Pagi ini saya kembali mendatangi masjid untuk menunaikan sholat subuh. Saya agak tergesa karena baru berangkat ketika adzan subuh berkumandang dari masjid lain. Ada beberapa masjid sepertinya di daerah sekitar sehingga suara adzan bersahut-sahutan. Jalan-jalan menuju masjid sepi, rumah-rumah lumayan megah tertutup rapat, barangkali penghuninya kembali tidur setelah makan sahur.

Sesampainya di masjid, ruang dalam masjid sepi. Jamaah wanita hanya saya seorang, jamaah pria ada sekitar empat orang, termasuk dua orang anak-anak yang kemudian diminta adzan. Setelah adzan dikumandangkan, beberapa saat kemudian datanglah ibu-ibu yang akhirnya membentuk dua baris shaf, tak jauh berbeda dengan jamaah pria. Seperti itulah sholat subuh akhirnya dilaksanakan.

Kondisi di Masjid Al-Muhajirin di kompleks kami di Madiun masih lebih baik sekalipun rumah tidak sepadat komplek Payung Asri, dan masjid agak jauh dari rumah kami. Jamaah wanita ketika sholat subuh biasanya 5 baris, demikian pula jamaah bapak-bapak. Barangkali karena komplek rumah kami di Madiun pada umumnya adalah pensiunan, sehingga waktu di pagi hari lebih santai. Sementara yang di Payung Asri kebanyakan adalah pekerja, sehingga tidak cukup waktu untuk berjamaah di masjid.

Sholat subuh sangat pendek, dan imam-imam di Indonesia rasanya baik-baik dengan membaca surat-surat di Juz Amma yang pendek-pendek pula. Tidak seperti di Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawiy di Madinah yang Imamnya kadang membaca surat panjang-panjang. Tetapi entah kenapa, meskipun panjang-panjang, sangat betah berdiri mendengarkan bacaan surat tersebut. Sementara di Indonesia, sekalipun pendek-pendek, ada beberapa imam yang kurang bersemangat, sehingga alhasil banyak yang mengantuk.

Sepinya jamaah sholat subuh mengingatkan saya pada hadits Rasulullah SAW yang akan membakar rumah orang-orang yang mendengarkan adzan, tetapi tidak bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat berjamaah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meri-wayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda:

Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan sha-lat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berang-kat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Al Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata;
“Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata; “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang akan menuntunku ke Masjid”.
Maka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan.
Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata; “Apakah kamu mendengar adzan?”
“Ya !!!”, jawabnya.
Nabi berkata; “Kalau begitu penuhilah (hadirilah)”. (Shahih Muslim).

Sholat berjamaah adalah anjuran muakkad yang ditetapkan Allah SWT, sebagaimana disampaikan dalam QS.Al-Baqarah: 43
2:43

Artinya : “Dirikanlah shalat,tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. (Al-Baqarah:43)

Saking pentingnya sholat berjamaah tidak ada sahabat yang meninggalkannya, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). Beliau menegaskan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid). (Shahih Muslim)

Bulan ramadhan telah diciptakan sebagai masa dan ladang bagi muslim untuk memperbanyak amalan. Karenanya sia-sia jika ini dilewatkan begitu saja. Apakah kita mengira bahwa amalan kita sudah memadai dengan hanya berpuasa, dengan hanya bersedekah? Padahal belum tahu kita apakah Allah menerima itu sebagai amalan dan menyuruh malaikat untuk mencatatnya.

Karena tidak ada keyakinan tentang amalan yang kita kerjakan, maka logikanya kita harus berbuat sebanyak-banyaknya amalan. Jangan membiarkan syetan melemahkan kita di bulan suci ini dan selalulah lantunkan doa:

Allaahumma rabbanaa taqabbal minna shalaatanaa, waruku’anaa, wa sujudanaa, wa qu’udanaa, wa tadharru’anaa, wa takhasyu-syuu’anaa, wa ta’abbudanaa, watammim taqshiiranna, yaa Allaahu ya rabbal ‘aalamiin.

Ya, Allah Ya Tuhan Kami. Terimalah shalat kami, rukuk kami, sujud kami, duduk kami, pengabdian kami, kekukhusyuan kami, ibadah kami, dan sempurnakanlah kekurangan yang kami lakukan dalam shalat, Wahai Allah Tuhan Seluruh Alam.

Renungan hari ketiga…

2 thoughts on “Sepinya Masjid pada Sholat Shubuh

  1. fransisca

    Mba Murni, seperti itu jugalah kondisi masjid di daerah Pancoran Jakarta Selatan, karena sebagian umat muslim disini berpendapat untuk jamaah perempuan lebih utama menunaikan shalat di rumah dibanding di masjid. Jadi untuk jamaah perempuan sangat jarang ditemukan di masjid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s