Siapa yang tidak mau khawatir dan sedih ?

Standar

Pastilah semua orang akan menjawab : Saya.

Kekhawatiran dan kesedihan bukan penyakit tetapi sebuah ujian yang diberikan kepada manusia untuk mensyukuri nikmatNya.

Allah mengaitkan kekhawatiran dan kesedihan dengan menafkahkan harta. Sebuah perumpamaan dan pemikiran yang kadang-kadang sulit dimengerti oleh akal kita.

Dalam QS. Al-Baqarah : 274, Allah mengatakan seperti ini :

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

alladziina (Orang-orang yang)  yunfiquuna (menafkahkan) amwaalahum (hartanya) billaili (di malam) wannahaari (dan siang hari) sirran (secara tersembunyi) wa alaaniyatan (dan terang-terangan) falahum (maka mereka mendapat) ajruhum (pahala) ‘inda rabbihim (di sisi Tuhannya) wa laa (Tidak ada) khaufun (kekhawatiran) alaihim (terhadap mereka) wa laa hum (dan tidak (pula) mereka) yahzanuun (bersedih hati).

Allah menjanjikan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada siang dan malam hari dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi akan dibalasnya dengan pahala yang berlipat, ketidakkhawatiran dan ketidaksedihan.

Umumnya orang yang menafkahkan hartanya akan berfikir hartanya akan berkurang maka ditimpalah dia perasaan khawatir dan sedih. Tetapi sebenarnya keadaan yang berlaku adalah sebaliknya. Allah menggantikan pemberian nafkah tersebut dengan harta yang berlipat dan kegembiraan selalu.

Barangkali ahli psikologi sekalipun sulit mengeksperimenkan teori Allah di atas, dan memang tidak perlu barangkali. Yang seharusnya dilakukan adalah segera dan merutinkan memberi kepada orang lain.

Ketika seseorang mengajarkan ilmunya yang dia perolehnya adalah kegembiraan dan kepuasan bathin. Ketika tangan kanan seseorang mengulurkan pemberian, maka hatinya mencapai klimaks kepuasan ketika si penerima mengucapkan terima kasih. Jika setiap saat seseorang memberi, dan selalunya dia mendengar ucapan terima kasih dan selalunya pula dia menerima pemberian Allah, maka bukankah orang itu tidak perlu khawatir kekurangan dan kesedihan ?

Renungan hari ketigapuluh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s