Mengapa tidak cinta kebersihan ?

Standar

Sungguh suatu hal yang miris ketika orang Islam yang notabene dalam ajaran agamanya mengajarkan kebersihan selalu tetapi pada kesehariannya tidak menyukai kebersihan. Boleh jadi dia suka pada kondisi bersih tapi tidak gemar mengupayakan kondisi bersih.

Saya pikir di Indonesia semuanya tentu suka dengan kondisi bersih. Tidak ada orang yang mau tinggal di tempat kotor kecuali itu adalah keterpaksaan.

Sayangnya kesenangan tinggal di tempat bersih tidak dibarengi dengan semangat menjaga kebersihan. Kebanyakan kita lebih suka jika ada orang lain yang bertugas untuk itu. Karena sudah ada petugas kebersihan maka kita dengan nyaman membuang sampah di sembarang tempat sekalipun sudah ada tempat sampah disiapkan. Rasanya malas berjalan membawa bungkus permen, malas mengotori tas dengan bungkusan makanan, tetapi kita tidak malas untuk mengotori jalan dengan sampah-sampah kita.

Barangkali pada saat membuang yang terpikirkan toh yang kotor bukan domain saya. Yang kotor, kan domain bersama. Pemikiran ke-aku-an inilah yang membuat kita kurang peka dengan orang lain dan kepekaan hidup bersama.

Saya belum mendapati orang yang demikian cintanya pada kebersihan selain muslimah Jepang di masjid Honjin. Setiap ada acara buka puasa bersama merekalah yang selalu sibuk membagi-bagikan plastik sampah, menggulung tikar makan, melap sampah-sampah basah di tikar makan, memvakum lantai, dan membuka jendela untuk memasukkan hawa segar ke dalam ruang sholat kami yang sempit. Pada saat kami mulai sholat suasana lantai sudah sangat bersih dan tidak akan ada sisa-sisa makanan yang menempel di jidat ketika kita bersujud.

Mereka juga mencuci piring makan, mengepel dan mengeringkan lantai kamar mandi. Saya kadang-kadang melakukan ini, tapi belakangan kulit tangan saya perih sekali terkena sabun. Sedang mimikri. Selain mereka beberapa muslimah Indonesia juga sering membantu.

Mereka jengah sholat dalam keadaan karpet kotor, apalagi masih tersisa remah-remah makanan. Ya, saya pikir semua juga demikian. Tetapi seringnya saya temui Ibu-ibu yang membiarkan saja anaknya menjatuhkan remah-remah makanan tanpa berusaha membersihkannya malahan sibuk mengobrol dengan temannya.Kalau sudah demikian, patutlah bertanya, “Mengapa mereka tidaj cinta kebersihan ?”

Kebersihan fisik identik dengan kebersihan lahir. Tidak mungkin orang akan bersih batinnya jika secara fisik dia berada pada lingkungan yang kotor. Istilah kotor tidak analog dengan kemiskinan. Sekalipun tinggal di rumah reot, seseorang tetap dianggap bersih jika rumah yang ditinggalinya pun bersih.

An-Nadzaafatu minal iimaan
“Kebersihan itu bagian dari iman” adalah slogan yang hanya sebatas menempel pada dinding madrasah dan lembaga Islam, tetapi belum menempel pada hati setiap insan.

Renungan hari keduapuluh delapan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s