Keharusan mengikuti Imam dalam sholat jamaah

Standar

Sudah dua kali mengikuti sholat qiyamul lail di masjid Honjin Nagoya selama ramadhan ini, dan selalunya pada salah satu rakaat imam membacakan ayat-ayat panjang yang di dalamnya ada ayat sajdah. Kemarin saya sudah terkecoh, tidak bisa menandai bacaan imam sampai pada ayat sajdah. Oleh karenanya saat i’tikaf tadi malam saya sudah mencari dan merangkum semua ayat sajadah dan mencoba menghafal atau membaca-bacanya supaya ada sedikit gambaran tentang isinya. Namun saat imam membaca salah satu ayat sajdah hari ini, saya kembali tidak yakin.

Masjid kami terdiri dari tiga lantai. Lantai satu adalah kantor, lantai dua ruang sholat jamaah wanita dan lantai tiga adalah ruang sholat jamaah pria. Pada setiap shalat berjamaah, jamaah wanita tidak dapat menyaksikan langsung imam dan hanya mendengarkan suaranya. Oleh karena itu apakah sekarang imam sedang sujud atau ruku hanya tertandai melalui aba-aba sholat yang kami dengarkan.

Posisi imam yang tidak terlihat oleh makmum kadang-kadang menimbulkan kekeliruan gerakan solat. Suatu kali pernah microfon penghubung rusak sehingga suara imam tak terdengar sama sekali. Dalam keadaan demikian semuanya harus mengambil tindakan sendiri-sendiri yaitu melanjutkan sholat sampai akhir.

Tetapi dalam hadits-hadits Nabi SAW terdapat hukum mengenai kebolehan posisi imam terpisah dengan makmum karena adanya sebuah “sutrah” (penghalang). Misalnya dalam Shahih Bukhari bab Idzaa kaana bainal imaamu wal makmum haaithun au sutratun (Seandainya ada dinding atau tabir pemisah antara imam dan makmum) disebutkan :

Al-Hasan mengatakan tidak masalah bagi anda untuk mengerjakan sholat sementara antara anda dengannya (imam) tedapat sungai.

Lalu Abu Miljaz berkata, “Imam itu harus diikuti, meskipun di antara keduanya terdapat jalan atau dinding. Selama dia masih bisa mendengar takbirnya”

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni berkata, “Jika diantara keduanya terdapat jalan atau sungai yang dilewati oleh perahu-perahu, atau keduanya sholat dalam dua perahu yang berbeda, maka terdapat dua pendapat. Pertama, tidak sah bermakmum kepada imam itu. Ini adalah pendapat para ulama kami dan pendapat Abu Hanifah. Hal itu karena jalan bukanlah tempat untuk sholat sehingga serupa dengan sesuatu yang menghalangi bersambungnya saf. Kedua, sah bermakmum kepadanya. Ini adalah pendapat yang benar menurut saya, dan merupakan pendapat Malik dan Syafi’i. Hal itu karena tidak ada dalil yang melarangnya, tidak pula ijmak atau sesuatu yang serupa denganya. Hal ini karena kondisi di atas tidak menghalangi makmum mengikuti imam, sedangkan yang mempengaruhi keabsahannya adalah sesuatu yang menghalangi penglihatan atau pendengaran.”

Wallahu a’lam bishshawab.

Renungan hari keduapuluh dua…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s