Siapa yang tidak merindukan malam kemuliaan ?

Standar

Jika masih juga habis waktu kita untuk duniawi saja, maka merugilah karena Allah telah menyediakan malam yang lebih baik dari seribu bulan di bulan ramadhan ini.

Ada kalanya pekerjaan dan aktivitas sehari-hari telah menyita tubuh, hati dan otak kita. Pada saat demikian kita menjadi lemah dengan memilih tidur dan tidak berupaya untuk beri’tikaf di masjid atau menegakkan qiyamul lail.

Tahun lalu saya melewatkan sepuluh hari terakhir ramadhan di masjid pada malam-malam ganjil saja dan itupun tak semuanya. Saya sama dengan teman-teman yang disibukkan dengan penelitian dan penulisan disertasi. Saya sangat bersyukur menjalani itu tetapi menangis sesudahnya karena menyesal tak bisa melakukannya lebih banyak padahal saya telah diberi penghidupan yang panjang hingga ramadhan tahun lalu.

Allah telah memberi kelebihan kepada sebagian hambaNya daripada sebagian yang lain. Kelebihan dari segi waktu, energi, materi, otak dan keikhlasan beribadah, sehingga malulah jika mereka yang diberi kelebihan tak dapat beribadah lebih baik dibandingkan yang tidak.

Saya ingin sekali dipersamakan dengan para pemburu lailatul qadar yang menghabiskan malam dengan bermunajat kepadaNya pada sepuluh hari terakhir ramadhan,yang Allah dengan kasih sayang dan pemurahNya akan memberikan keselematan dan kesejahteraan hingga fajar.

Tadi malam saya sangat takut sekali dan menangis ketika imam berkata bahwa mungkin saja ini adalah lailatul qadar terakhir, mungkin saja ini adalah i’tikaf terakhir yang diperkenankan Allah untuk kita.

Saya merasa takut dengan kesia-siaan hidup selama ini.

Ramadhan adalah sahabat tercinta yang perlu kita antarkan kepergiannya melalui “kedekatan” kepadanya selama sepuluh hari terakhir. I’tikaf dan ibadah kepadaNya selama sepuluh hari terakhir adalah gambaran tentang cintanya kita kepada bulan mulia ini. Sebagaimana gambaran enggannya kita berpisah dengannya.

Baru satu hari lewat, masih ada sembilan hari, insya Allah. Inginnya agar Allah melimpahkan selalu semangat dan tekad untuk untuk beri’tikaf di rumahNya. Ketika hati dan pikiran menjadi lemah, semoga Allah selalu menguatkan semangat untuk beribadah kepadaNya dan menambahkan keimanan hamba-hambaNya dengan i’tikaf.

Sekalipun belum menyamai i’tikaf Rasulullah dan para sahabat mulia yang menghabiskan siang dan malam di masjid, semoga Allah menerima sholat, dzikir, doa, ruku, sujud kami pada malam-malam kami beri’tikaf.

Renungan hari keduapuluh satu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s