Manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku

Standar

Setiap hari pergi ke masjid, selalu saya dapati sister berkulit gelap yang selalu menyapa saya dengan ucapan salam dan senyuman yang manis. Dia selalu duduk di pojok depan ruang sholat kami yang tidak begitu luas. Dan irinya, dia selalu datang lebih awal dan belum pernah absen datang ke masjid.

Sister yang belum kutahu namanya itu berasal dari Uganda, negeri muslim yang dulu sangat lekat dengan telingaku saat SD, dengan presiden Idi Amin-nya.

Selain dia ada pula sister-sister Jepang yang sesuai dengan pembawaannya sehari-hari, mereka paling rajin membersihkan ruang shalat kami. Mereka sangat serius beribadah, bahkan ada yang sangat fasih berbahasa Arab.

Ada pula sister-sister dari Mesir yang selalu membawa anak-anaknya yang lucu. Kalau mereka berbicara, kami yang tidak terlalu mengerti seakan mendengar suara orang marah. Padahal tidak. Mereka sangat ramah jika kita mengajaknya berbicara.

Ada pula sister-sister Malaysia yang karena bahasa kami sama, kami lebih akrab bercanda dengan mereka. Anak-anak mereka pun kadang-kadang menjadi teman bermain kami.

Selain mereka, sister-sister dari Myanmar, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat pun sesekali datang meramaikan masjid kami. Karena kedatangan teman-teman dari berbagai negara tersebut, suasana masjid kami sangat internasional.

Berkumpul dengan mereka membawakan sebuah kearifan berfikir baru bagi siapa saja. Darinya kita dapat tafakkur, sungguh Maha Kuasa Allah yang telah menciptakan kami dalam warna kulit dan bahasa yang berbeda. Darinya pula kami saling mengenal bagaimana kehidupan, cara makan, cara sholat mereka. Sekalipun kami sama-sama mengakui Al-Quran sebagai pedoman hidup, tetapi tampak sekali pemahaman ibadah kami banyak dipengaruhi oleh budaya sebuah negeri.

Allah telah menciptakan kita berbangsa-bangsa, supaya kita saling mengenal, tidak saja nama, tetapi juga kebiasaan, cara pandang, budaya. Dengan mengenal itu Allah seakan hendak mengajarkan kepada kita tentang arti sebuah pertemanan dan pelajaran menghargai orang lain. Dengan pemahaman yang baik itu, bukankah kita akan terhindar dengan saling mengejek dan menjelek-jelekkan ?

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

yaa ayyuhannaasu (Hai manusia),inaa khalaqnaakum (sesungguhnya Kami menciptakan kamu) min zakarin (dari seorang laki-laki) wa untsaa (dan seorang perempuan) wa ja’alnaakum (dan menjadikan kamu) syu’uuban (berbangsa-bangsa) wa qabaailan (dan bersuku-suku) lita’aarafuu (supaya kamu saling kenal-mengenal).Inna akramakum (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu) ‘indalllaahi (di sisi Allah) atqaakum (ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu).Innallaaha (Sesungguhnya Allah)  ‘aliimun (Maha Mengetahui) khabiirun (lagi Maha Mengenal) (QS. 49:13)

Renungan hari keduapuluh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s