Niat dan Tekad

Standar

Kalau amalan tidak disertai dengan niat maka dia tak bernilai. Niat melandasi semua perbuatan baik dan buruk. Amalan (Perbuatan) akan menjadi baik jika niatnya baik, yaitu mendapatkan keridhaan Allah.

Sebagaimana Rasulullah menjelaskan tentang nilai pentingnya niat.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata:

sami’tu (Saya mendengar) rasulallaahi  (Rasulullah)  shollallaahu (shalawat Allah) alaihi (atasnya)  wasallam (dan keselamatan) yaquulu (bersabda) : innamaa (Sesungguhnya) Al-a’malu (setiap  perbuatan) binniyaati (tergantung niatnya).  wa innamaa (Dan  sesungguhnya) likulli mriin ( setiap  orang)  maa nawaa ((akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan). faman kaana (Siapa yang keadaan) hijratuhu  (hijrahnya) ila llaahi (karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah) wa rasuulihi (dan Rasul-Nya),fahijratuhuu (maka hijrahnya) ilaallaahi wa rasuulihii (kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya).wa man kaana hijaratuhuu (Dan siapa yang hijrahnya) liddunyaa (karena dunia) yushibhaa (yang dikehendakinya) aw imraatin (atau karena wanita) yunkihuhaa (yang ingin dinikahinya) fahijratuhu (maka hijrahnya) ilaa ma hajara ilaihi (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan)

Lalu bagaimana dengan tekad ? Itu tak sama dengan niat. Tekad lebih cenderung bermakna ketetapan hati untuk melakukan sesuatu. Jika sudah diniatkan tetapi tidak ada tekad maka sesuatu tidak akan terlaksana.

Begitulah yang saya rasakan hari ini. Saya tidak mengira jadwal mengajar ditambah satu jam lagi, padahal saya sudah berniat berbuka dan sholat di masjid. Akibat ditambah satu jam, maka jadwal naik kereta dari Toyota mundur, jam 19.23. Kalau dihitung-hitung perjalanan untuk sampai stasiun Honjin, stasiun terdekat dari masjid sekitar 1 jam . Jadi kemungkinan besar saya akan sampai di Honjin pukul 20.23 atau lebih cepat  jika saya berlari dan sukses mengejar kereta pukul 20.10 dari Fushimi. Sayangnya tidak sukses. Tapi alhamdulillah kereta di jalur kuning selalu cepat datangnya, jadi saya sampai di Honjin pukul 20.27  dan langsung berlari menaiki tangga stasiun yang banyak sekali lalu sampai di masjid kira-kira saat imam sedang memimpin sholat tarawih dua rakaat kedua. Alhamdulillah !

Berawal dari niat ingin selalu mengerjakan isya dan tarawih berjamaah,saya berupaya untuk selalu mampir ke masjid sepulang kerja. Alhamdulillah, sekalipun baru terlaksana rutin pekan ini. Pekan lalu saya sholat berjamaah di rumah teman, tapi kemudian terhenti karena kami sama-sama sibuk. Pada saat itu saya hanya punya niat sholat berjamaah saja barangkali , tetapi tidak ada tekad.

Kadang-kadang pula saya membatalkan sholat berjamaah karena banyak alasan yang datang mendadak. Kalau tidak karena tekad yang kuat dan pertolongan Allah, tentulah tidak akan digerakkan hati kita untuk menunaikan sebuah niat ibadah.

Renungan hari keenam belas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s