Lupa atau lalai ?

Standar

Saya kadang-kadang tidak bisa membedakan apakah saya lupa atau lalai mengerjakan perintah Allah. Sebab lupa adalah kealpaan yang diampuni Allah, maka kadang-kadang saya tidak mengakui kelalaian saya sebagai kelalaian, dan cenderung menggolongkannya sebagai lupa.

Lupa dan lalai tidak sama. Lupa dalah bahasa Arab disebut an-nisyan, sedangkan lalai disebut as-sahwu.

Lupa sering kali makin bertambah saat usia manusia bertambah. Lupa selalu identik dengan penyakit orang tua katanya. Jika sudah sampai taraf yang amat parah, itulah pikun.

Tetapi lupa agaknya sudah menjadi penyakit orang sibuk pula.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Allah mengampunkan orang-orang yang lupa berdasarkan hadits di atas. Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah bersabda:

inna llaaha (sesungguhnya Allah) tajaawazu lii (telah memaafkan) lii an ummattii (dari umatku) alkhathau (kesalahan-kesalahannya) wattasniin (lupa) wa maa istakarruu huwa (dan apa yang dia dipaksa) alaihi (atasnya) (HR. Ibnu Majah)

Adapun lalai selayaknya dimasukkan sebagai dosa, karena biasanya kita sudah paham dan mengerti tetapi kita tidak mengerjakan ibadah tersebut dengan benar. Lalai terjadinya karena syetan telah masuk ke dalam tubuh dan pikiran manusia sehingga dia menjadi tidak ingat apa yang semestinya dia kerjakan.

Syetan gampang sekali masuk dan menggoda orang-orang yang lemah iman. Tidak perlu upaya keras, dia dengan mudahnya merasuk dalam darah manusia yang cepat sekali beredarnya ke otak dan hati. Lalu, hilang semua niat-niat baik manusia.

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

laa tukallifallaahu (Allah tidak membebani) nafsan (seseorang) illaa wus’ahaa (melainkan sesuai dengan kesanggupannya) lahaa (baginya) maa kasabat (kebajikan yang diusahakannya) wa alaiha (dan atasnya) maktasabat  (siksa dari kejahatan yang dikerjakannya). Rabbanaa (Ya Rabb kami) laa tuaakhizna (janganlah Engkau hukum kami) in nasiinaa (jika kami lupa) aw akhtho’na (atau kami bersalah) Rabbanaa (Ya Rabb kami) laa tahmil alaina (janganlah Engkau bebankan kepada kami) ishron (beban yang berat) kamaa hamaltahu (sebagaimana Engkau bebankan) alalladziina (kepada orang-orang yang) min qablinaa (sebelum kami) rabbanaa (Ya Rabb kami)  wa laa tuhammilnaa (janganlah Engkau pikulkan kepada kami) maa tuqaata lanaa bihi (apa yang tak sanggup kami memikulnya) wa’fu anna (Beri maaflah kami) waghfirlanaa (dan ampunilah kami) warhamnaa (dan rahmatilah kami) anta maulaanaa (Engkaulah Penolong kami) fanshurnaa alal kaafiriin (maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir) (QS. 2:286)

Renungan hari keduabelas….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s