Tiada hari tanpa bersiap untuk akhirat

Standar

Setiap hari teman saya menyiapkan bento (bekal makan) untuk suaminya yang berangkat ke kampus dari pagi lalu berlanjut dengan kerja. Bekal berbuka selalu disiapkan teman tanpa bosannya. Ketika dia menceritakan itu, saya teringat pada ayat yang menganjurkan manusia untuk selalu mempersiapkan bekal untuk akhiratnya.

Seperti rajinnya teman menyiapkan bekal untuk suaminya, apakah demikian pula kita rajin menyiapkan bekal untuk suatu masa yang pasti akan datang, masa ketika kita ditanyai apakah sudah cukup bekal yang kita punyai.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ya ayyuha lladziina aamanuu (Hai orang-orang yang beriman) ittaqullaaha (bertaqwalah kepada Allah) haqqa tuqaatihi (sebenar-benar taqwa kepada-Nya); wa laa  (dan janganlah sekali-kali) tamuutunna (kamu mati) illa  (melainkan) wa antum muslimuun (dalam keadaan beragama Islam) (QS. 3:102)

Bekal untuk akhirat sama saja dengan bekal makan untuk berbuka, tidak akan terasa enak jika dipersiapkan tidak dengan sungguh-sungguh. Bekal untuk akhirat bukanlah bekal yang dipersiapkan dalam masa sehari dua hari menjelang kiamat. Sebab tiada yang tahu kapan akan ditiup sangkakala. Oleh karenanya bekal harus disiapkan sejak kita mulai mampu membedakan yang baik dan yang buruk menurut agama.

Bekal itu salah satunya menyambut pagi dengan ucapan doa, memujiNya ketika matahari mulai naik dengan sholat dhuha yang khusyuu dan ikhlas…

Renungan hari kesepuluh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s