Sakit dan Sang Penyembuh

Standar

Ada email dari seorang professor di Malaysia, kenalan saya. Beliau sedang sakit dan mengalami perawatan rutin di rumah sakit. Beliau minta didoakan untuk kesembuhan dan kesehatan. Beliau adalah salah seorang yang diperkenankan Allah untuk saya jumpai pada suatu masa. Darinya saya belajar banyak tentang perlunya mengaitkan selalu pendidikan dan pengajaran dengan etika dan nilai moral agama. Semoga senantiasa Allah melimpahkan kasih sayangNya.

Siapapun pastilah tidak mau sakit, sekalipun dibayar berjuta-juta tak terhingga bilangannya. Tetapi Allah menciptakan penyakit supaya kita mengerti arti kesehatan. Penyakit adalah sebuah bentuk ujian keimanan. Orang-orang yang berhasil lolos darinya adalah orang-orang yang bersabar dan berikhtiar untuk kesembuhannya.

Allah menjanjikan pengangkatan dosa dan kesalahan kepada si sakit. Tetapi hanya kepada dia yang berikhtiar untuk kesembuhan dan bersabar sesudanya. Orang-orang yang meminta segera disudahkan penderitaannya melalui kematian tiadalah beroleh rahmat.

Penyakit dan rasa sakit muncul di badan kita karena adanya metabolisme yang terganggu, ada organ yang tidak bekerja normal, atau karena dimakan usia ada organ yang sudah afkir dan kelelahan bekerja.

Asupan yang kita berikan ke tubuh adalah salah satu penentu bekerja normalnya organ-organ tubuh, mengalirnya darah dengan lancar dan bekerjanya otak dan hati secara sinergis.

Kata penyakit di dalam bahasa Arab adalah al-mardlu dan selalunya dibarengi dengan kata syifaaun (obat). Artinya semua penyakit yang diciptakan oleh Allah ada obatnya. Hanya saja kedangkalan berfikir dan ilmu manusia belum mampu menemukan obat-obat setiap penyakit.

Di dalam Al-Quran, Allah menyebutkan beberapa sumber pengobatan itu. Sebagaimana Dia telah merangkaikan sebuah kalimat indah dalam QS An-Nahl : 68-69

أَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Wa auhaa (Dan  telah mewahyukan) rabbuka (Tuhanmu) ilaa (kepada) an-nahl (lebah), anittakhidzii (“Buatlah) min al-jibaali (di bukit-bukit) buyuutan (sarang-sarang) wa min asysyajari (dan di pohon-pohon kayu) wa mimma ya’risyuun (dan di tempat-tempat yang dibuat manusia)

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً قَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

tsumma (kemudian) kulii (makanlah) min kulli (dari tiap-tiap (macam)) atstsamaraati (buah-buahan) faslukii (dan tempuhlah) subula (jalan-jalan) rabbika (Tuhanmu)  dzululan (yang telah dimudahkan). Yakhruju (keluar) min (dari) buthuunihaa (perut lebah itu) syaraabun (minuman (madu)) mukhallifun (yang bermacam-macam) alwaanuhaa (warnanya), fiihi (di dalamnya) syifaaun (terdapat obat) linnaasi (bagi manusia) inna (Sesungguhnya) fii dzaalika (pada yang demikian itu) la aayaatin (benar-benar terdapat tanda) li qaumin (bagi orang-orang) yatafakkaruun (yang memikirkan).

Madu yang dihasilkan lebah memang tidak menyembuhkan segala penyakit, tetapi dia adalah penguat tubuh untuk bertahan dan melawan keganasan penyakit. Allah menciptakan madu dengan beragam jenis dan warna, yang kesemuanya tentunya memiliki nilai pengobatan yang berbeda pula. Hanya manusia yang berfikir yang mampu menemukan kekhasan tsb.

Karena penyakit dan kesembuhannya adalah milik Allah, maka kepadaNya pula kita sepatutnya bermohon selalu.

Allahumma ‘aafinii fii badanii. Allaahuma ‘aafinii fi sam’ii. Allaahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri laa illaaha illaa anta (HR. Abu Dawud)

Allahumma (Ya Allah) aafini (sehatkanlah) fii badani (tubuhku). Allahumma (Ya Allah) aafinii (sehatkanlah) fii sam’ii (pendengaranku). Allahumma (Ya Allah) aafinii (sehatkanlah) fii basharii (penglihatanku). Allahumma (Ya Allah) inni (sesungguhnya aku) a’udzubika (aku berlindung kepadamu) min al-kufri (dari kekafiran) wa al faqri (dan kefakiran). Allahumma (Ya Allah) inni (sesungguhnya aku) a’uudzu (aku berlindung) bika (kepadamu) min (dari) ‘adzaabi al qabri (siksa kubur) laa (tiada) ilaaha (Ilah) illaa (kecuali) anta (Engkau).

Kepada mereka yang sakit, doakanlah :

Allaahumma rabbannaasi Adzhibil ba’sa isyfi antasysyaafii.La syifaa-a illaa Syifaa-uka Syifaa-an laa yughaadiru saqamaa

Allahumma (Ya Allah)  rabbannaasi (Tuhan manusia) adzhib (jauhkanlah) al-ba’sa (kesukaran/penyakit), isyfi (sembuhkanlah) anta (Engkaulah) syaafii (Penyembuh) laa (tidak ada) syifaan (obat) illaa (kecuali) syifaauka (obatMu) syifaan (yaitu obat) laa (yg tidak) yughaadiru (meninggalkan) saqamaa (penyakit lain) (HR. Bukhari- Muslim)

Ya,  Allah jika penyakit ini adalah ujian keimanan untuk hamba, maka sabarkan hamba menghadapinya, ampunkan dosa dan kesalahan hamba dan tambahkan ketakwaan hamba kepadaMu.

Renungan hari ketiga….

One thought on “Sakit dan Sang Penyembuh

  1. Salam … saya pernah dapat wejangan dari kakek, bahwa kunci kesehatan dalam al-qur’an adalah kebersihan, sementara media penyembuh adalah madu / syifa’un … mohon dikoreksi kalau salah… ingat lupa ingat soalx …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s