Kepala Dingin

Standar

Tidak ada yang bisa mengenali diri kita selain kita sendiri. Saya sangat setuju dengan kalimat ini. Setelah selama 39 tahun diberi kesempatan menghirup udara dunia, saya pelan-pelan memahami kelemahan diri, dan kadang-kadang menjadi takut dengannya.

Entahlah, bagaimana metabolisme dan perkembangan otak dan akal manusia,tetapi katanya menjelang usia 40, manusia cenderung lebih bijak dan dewasa. Tetapi tidak selalunya saya demikian. Kebijakan itu rasanya masih jauh.

Saya masih sulit meredam amarah saat berdiskusi dengan keluarga dan teman-teman. Sudah sering rasanya saya bersuara lantang kepada adik-adik, tetapi kepada kakak dan ibu/bapak, saya pantang berkata kasar. Saya lebih sering marah kepada adik, tetapi marahnya saya hanya sebentar dan berikutnya saya bisa berubah 180 derajat.

Dalam diskusi-diskusi, kadang-kadang saya selalu ingin menang dan kurang bijak mendengar orang lain. Dan sedihnya, barangkali karena masalah umur, kadang-kadang teman-teman membiarkan dan memaklumi saja kelakuan saya yang tidak bijak.

Malu dan sedih sekali rasanya, ketika setelahnya saya mulai merenung dan termangu, sebab lagi-lagi saya tidak bisa berkepala dingin. Tapi sebagaimana cepatnya saya terbawa emosi, secepat itu pula emosi bisa hilang, karena alhamdulillah Allah masing sayang dengan memberikan kebiasaan merenung dan berfikir kepada saya.

Orang-orang yang tidak bisa berkepala dingin, cepat marah menurut Al-Quran belum bisa dikatakan sebagai orang yang bertaqwa.Dalam QS. Al-Imran : 133-134 disebutkan demikian.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

wasaariu (dan bersegeralah) ilaa (pada) maghfiratun (ampunan) min (dari) rabbikum (Tuhanmu), wa jannaatin (dan surga) ardhuhaa (yg luasnya) assamaawaati (seluas langit) wal ardlu (dan bumi), uiddat (yg disediakan) lil muttaqiin (untuk orang yang bertakwa)

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

alladziina (yaitu orang-orang yang) yunfiquuna (berinfak) fi sarraai (dalam keadaan lapang) wa dlarraai (dan keadaan sempit), wal kaadzimiina (dan orang-orang yang menahan) alghaidz (amarah) wal aafiina (dan pemaaf) an annaasi (kepada manusia). wallaahu (dan Allah) yuhibbu (mencintai) almuhsiniin (orang-orang yang berbuat baik)

Tetapi orang-orang seperti saya yang kadang-kadang tidak bisa menahan marah dapat memperbaiki diri dengan tuntunan kasih sayangNya. Allah menyuruh kita meminta ampunanNya. Sebagaimana lanjutan ayat di atas, QS Al-Imron : 135.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

walladziina (dan orang-orang yang) idzaa (apabila) fa’aluu (mereka mengerjakan) faahisyatan (perbuatan keji) aw (atau) dzalamuu (mereka menzalimi) anfusahum (diri mereka) zakarullaaha (mereka mengingat Allah) fastaghfaruu (lalu mereka minta ampun) lizunuubihim (atas dosa-dosanya). wa man (dan tiadalah seseorang) yaghfiru (yg mengampuni) azzunuuba (dosa-dosa) illa llaah (kecuali Allah). wa lam (dan tidaklah) yushiruu (mereka meneruskan) alaa maa (atas apa-apa) fa ‘aluu (yg mereka kerjakan) wa hum (dan mereka) ya’maluun (mengetahuinya).

Inginnya seperti itu. Segera setelah kemarahan, dapat mengingat Allah dan melanjutkannya dengan ucapan istighfar. Sebab saya merindui janji Allah pada ayat selanjutnya.

أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

ulaaika (mereka itulah) jazaaauhum (balasan untuk mereka) maghfiratun (ampunan) min rabbihim (dari Tuhan mereka) wa jannaatin (dan surga-surga) tajrii (yg mengalir) min tahtihaa (dari bawahnya) al anhaar (sungai-sungai) khaalidiina (mereka kekal) fiihaa (di dalamnya) wa ni’ma (dan itulah sebaik-baiknya) ajru (pahala) lil ‘aamiliin (bagi orang yang beramal).

Agar senantiasa berkepala dingin dan dijauhkan dari kekerasan hati dan kata, maka tiada cara lain selain melembutkan hati dan akal dengan senantiasa berwudlu, membaca Al-Quran dengan suara yang indah dan pemahaman hakiki.

Allahumma, jauhkan kami dari sifat amarah dan kekerasan hati.

Renungan hari kedua….

2 thoughts on “Kepala Dingin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s