Jika berat pergi ke Gaza, tegakkanlah qunut nazilah

Standar

Jika berat pergi ke Gaza, maka janganlah malas untuk berdiri tegak menengadahkan tangan, memohon pertolonganNya dalam sholat-sholatmu untuk menguatkan barisan saudara-saudara muslim di Gaza, menguatkan hati ibu-ibu yang ditinggalkan bayi-bayi mungilnya, menyabarkan ayah yang ditinggalkan ke surga oleh anak-anaknya yang masih suci.

Jangan putus berdoa untuk mereka, sebab dingin yang menggigit ini masih tak sebanding dengan ketakutan, kelaparan, dan kegelisahan yang mencekam anak-anak Gaza hari demi hari.

Sudahkah berdoa untuk mereka hari ini ?

(Bacaan qunut di dalam rakaat terakhir sholat-sholat fardhu)

Allaahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat
Wal muslimiina wal muslimaat
Wa allif baina quluubihim
Wa ashlih dzaata bainahum
Wanshur ‘alaa ‘aduwwika wa’aduwwihim

Allahumma ‘in kafarota ahlil kitaabil ladziina
Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka
Alloohumma khallif baina kalimaatihim
Wazalzil aqdaamahum
Wa anzil bihim ba’saka lladzii la yuroddu ‘anil
qaumil mujrimiin

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allohumma innaa nasta’iinuka

Artinya:

“Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,
Perbaikilah keadaan mereka,
Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
Hancur leburkan kekuatan mereka,
Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

(Doa Qunut yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab)

7 thoughts on “Jika berat pergi ke Gaza, tegakkanlah qunut nazilah

  1. Assalamu`alaikum Jazakillah taujihnya ..ana belum tahu dalil shohih ttg do`a qunut,,setahuku hanya sedikit ttg riwayat Rosulullah pernah melakukan do`a qunut pada waktu perang,,..saya mohon penjelasan ttg tulisan “Bacaan qunut di dalam rakaat terakhir sholat-sholat fardhu” dalil shohihnya..Jazakillah ana tunggu coz jika benar shahih(karena ibadah hrs ada dalil yg jelas)ana pengen banget melaksanakan untuk saudara2 kita di palestina..semoga memperoleh kemenangan..AllahuAkbar!!

  2. @Pak Edi
    Wa alaikum salam warahmatullah

    Pernyataan anda : “Setahuku hanya sedikit riwayat Rasulullah pernah melakukan do’a qunut pada waktu perang”.

    Memang tdk ada riwayat bhw Rasulullah melakukannya pada masa perang.
    Penjelasan ttg Qunut Nazilah tidak bisa dipisahkan dg sunah Qunut yg dilakukan pada sholat subuh.Oleh karenanya pembahasannya dlm kitab2 Fiqih selalu dibarengkan.

    Tentang bacaan qunut sendiri, tidak ada kesepatan ulama tentang bacaan pastinya,karenanya ada yg membacanya ringkas, ada yg membacanya panjang. Bacaan di atas adalah yg diriwayatkan dari umar bin Khattab.

    Dalil ttg pembacaan qunut dlm sholat fardhu adalah :
    Hasan : Dikeluarkan oleh Abu Daud dan berkata al-Nawawi dalam al-Majmu’, jld. 3, ms. 482: “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan atau sahih.” Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud – hadis no. 1443.

    قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا

    فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ

    كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ

    يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ

    وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah berqunut sebulan berturut-turut

    dalam solat Zuhur, Asar, Maghrib, Isyak dan Subuh iaitu dalam rakaat terakhir

    ketika i’tidal sehabis mengucapkan “Samiallahuliman hamidah”.

    Di situ baginda berdoa untuk kebinasaan Bani Sulaim, Ra’al, Dzakwan dan Ushaiyah, sedang makmum yang di belakangnya mengaminkan doa itu.”

    Ini dibacakan Rasulullah bukan pada saat perang.

    Sementara itu Anas bin Malik radhiallahu’anh juga telah berkata:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ

    إلاَّ إذَا دَعَا الْْقَوْمِ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ.

    “Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidaklah pernah berdoa selepas
    (bangun dari rukuk) kecuali untuk memohon kebaikan kepada banyak orang atau mengutuk sesetengah kaum itu.”
    Sanad Sahih: Dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah di dalam Shahihnya – hadis no. 620 dan sanadnya dinilai sahih oleh Muhammad Musthafa al-‘Azhami dalam semakannya ke atas kitab tersebut. Juga dikeluarkan oleh Ibn al-Jauzi dalam al-Tahqiq fi Masa’il al-Khilaf, hadis no. 774. Berkata al-Zahabi dalam Tanqih al-Tahqiq: “Sanadnya sahih, diriwayatkan oleh al-Khatib dalam Kitab al-Qunut.”

    Saya mengutipnya dari sini : http://hafizfirdaus.com/ebook/PersoalanSolat/13.htm#_ftn12

    Dan seperti itu pula yg sy pelajari di pesantren dulu.

    Pernyataan anda : “karena ibadah hrs ada dalil yg jelas”
    Saya setuju.
    Tp dari yg saya pahami, tidak semua ibadah harus dilatarbelakangi dg dalil yg sahih.

    Untuk itu perlu dipahami derajat hadits Nabi sbb:
    Ada dua kelompok besar :
    1. Hadits Mutawattir (tidak ada keraguan, perbedaan matan(isi) hadits, dan kealpaan dalam periwayatan dan para rawinya bersih tanpa cacat), biasanya apabila ada keterangan “muttafaqun alaihi” (artinya semua sepakat akan kebenaran hadits tsb).

    2. Hadits Ahad terdiri dari :
    Hadits Shahih (Shahih = Benar)
    Hadits Hasan (Hasan = Baik)
    Hadits Dhaif (Dhaif = Lemah)

    Untuk uraian ttg klasifikasi hadits silahkan membacanya di kitab Ullumul Hadits.

    Ibadah harus berdasarkan Quran dan sunnah Nabi yg terbagi dalam runutan hadits di atas.
    Adakalanya ibadah dilakukan meskipun dalil haditsnya hasan, dan adakalanya pula dilakukan meskipun haditsnya dhaif (tp ini tdk dianjurkan dan beberapa ulama tidak menjalankannya).

    Tetapi sama sekali tidak dibenarkan melakukan ibadah yg didasarkan kepada hadits palsu (Hadits Maudhu),krn sama saja ini tdk berdalil.
    Tdk perlu mengumpulkan banyak hadits/riwayat yg menyatakan sesuatu ibadah adalah sahih jika hendak menunaikannya, tetapi satu riwayat saja yg mengatakan itu sahih, maka jatuhlah kesunnahan untuk melakukannya.

    Wallaahu a’lam bishshawaab.
    Mohon maaf jk kurang berkenan
    btw, apakah dalilnya penggunaan “ana” sebagai pengganti kata “saya” ?
    (sekedar tanya)

  3. Jazakillah penjelasannya ,,,apakah dalilnya penggunaan “ana” sebagai pengganti kata “saya” ?kalau ini jangan tanya dalil itukan sekedar bahasa bukan ibadah..hehe:-) ana kan bahasa arab..yg artinya saya setahuku itu..
    seneng bisa menimba ilmu di sini
    Wassalamu`alaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s