Yang paling merugi

Standar

Siapakah yang dikatakan paling merugi ?

Bukan orang yang tak berhasil memeperoleh untung dalam perdagangannya. Bukan pula orang yang tak menang dalam pemilu.  Mereka adalah orang-orang yang mengira telah berbuat baik padahal sesungguhnya perbuatan buruk yang dilakukannya.

QS Al-Kahfi 103-106

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

qul (katakanla) hal (apakah) nunabbiukum (kami beritahukan kepadamu)bil akhsariin (orang-orang yang merugi) a’maalan (amalannya)

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

alladziina (orang-orang yang) dlalla (telah sia-sia) sa’yuhum (perbuatannya) filhayaati dunyaa (di dalam kehidupan dunia) wa huwa (sedangkan dia) yahsabuuna (mengira) annahum (bahwasanya mereka) yuhsinuuna sun’aa (berbuat kebaikan)

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

ulaaika (mereka itulah) alladziina (orang-orang yang) kafaruu (mengingkari) bi aayaati rabbihim (dengan ayat-ayat Tuhannya) waliqooihi (dan pertemuan denganNya) fahaythot (maka terhapuslah) a’maalahum (amalan mereka) wa laa (dan tidaklah) nuqiimu (Kami  menilai amalan) lahum ( mereka) yaumal qiyaamah (pada hari kiamat) waznan (dengan sebaik-baik penilaian)

ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

dzaalika (yang demikian itu) jazaauhum (balasan bagi mereka) jahannamu (adalah neraka jahannam) bimaa (terhadap apa-apa yang) kafaruu (mereka ingkar) wattakhadzuu (dan disebabkan mereka menjadikan) biaayaatii (ayat-ayatKu) warusulii (dan rasul2Ku) huzuwan (sebagai olok-olokan)

Banyak sudah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja oleh tangan, mulut, kaki, mata, dan semua indera. Yang dengan pikiran pendek dan sederhana, dianggaplah dia sebagai perbuatan baik.

Tetapi ketika direnungkan secara mendalam ternyatalah dia perbuatan yang tidak mendatangkan pahala di sisiNya. Tak dihitung sebagai catatan kebaikan dalam kitab amal.

Ibnu Al-Arabi pernah menyitir sebuah atsar tentang kisah seorang penghafal Al-Quran yang dimasukkan ke dalam neraka. Disangkanya bacaannya , hafalannya akan membawanya kepada surga, tetapi malaikat membuka catatan yang menyatakan bahwa dia melakukan itu untuk mendapatkan pujian dan agar digelari bahwa dia adalah Qaari.

Seorang panglima perang pun digiring masuk neraka, padahal dia memimpin bala tentara membela agama Allah. Nyatanya kitabnya mengatakan bahwa dia melakukan itu agar digelari panglima.

Tak ada yang mengetahui niat itu selain diri sendiri dan Allah yang akan memerintahkan malaikatNya untuk mencatatnya. Oleh karenanya meluruskan niat demi Allah adalah kunci utama sebuah amalan akan dicatat sebagai amalan kebaikan.

Orang-orang yang menyangka perbuatannya adalah perbuatan baik akan dijangkiti penyakit yang sulit disembuhkan, yaitu penyakit ingkar. Ingkar terhadap ayat-ayat Allah, ingkar terhadap perjumpaan denganNya, bahkan terlalu jauh menjadikan ayat-ayat dan rasul-rasulNya sebagai perolok-olokan yang hina.

Pengingkaran pun akan menjerumuskannya kepada riya dan segala penyakit syaithiniyyah.

Maka tiba saatnya memperbanyak ingat kepadaNya, mengikhlaskan amalan demi memperoleh ridhaNya.

Renungan hari keduapuluh delapan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s