Tuan, berhentilah

Standar

Tuan, berhentilah….
Berhentilah berkaor, jika yang ada di kepala anda hanya keinginan untuk menambah perbendaharaan pundi-pundi anda
Berhentilah berteriak jika memang kepala anda kosong dari ide-ide yang mensejahterahkan rakyat

Kami capek mendengar anda dan melihat busa-busa bergumpal-gumpal keluar dari mulut anda
lalu busa itu lenyap tanpa ada bekasnya

Membicarakan politik dan keadaan bangsa lebih banyak membuat jengkel, marah, putus asa, bahkan nyaris pada titik klimaks “kelumpuhan kepedulian”. Teman yang baru saja pulang ke Indonesia menceritakan bagaimana ‘noraknya’ para politikus berkampanye. Mohon maaf kepada para pulitikus, karena saya terpaksa mengatakan anda-anda memang norak. Beribu maaf bagi yang tidak norak !!

Mudah-mudahan ini tidak dicatat sebagai dosa saya di bulan suci ini karena mencaci maki anda, sebab saya sama dengan yang lain, menginginkan yg terbaik untuk rakyat yang tinggal di sebuah negara yang bernama Indonesia. Saya hanya ingin mengatakan kepada anda para politikus :

Bahwa hari ini saya membaca surat At-Takaatsur.
Dan di dalamnya Allah mengisahkan dan mengingatkan ini :

Alhaakumuttakaatsur   ……bermegah-megahan telah melalaikanmu

Hatta zurtumul maqoobir…………hingga engkau akan masuk ke liang kubur

Kalla saufa ta’lamuun ……………..berhentilah berbuat seperti itu, karena engkau akan tahu akibatnya

Tsumma kalla saufa ta’lamuun ………….berhentilah karena engkau akan tahu akibatnya

Kalla lau ta’lamuuna ilma’l yaqiin …….berhentilah karena engkau mengetahui akibatnya dengan baik

Lataraunnal jahiim …………….kamu akan melihat neraka

Tsumma lataraunnaha ainal yaqiin ……………..melihatnya dengan mata kepalamu sendiri

Tsumma latusalunna yaumaidzin ani na’iim …………….kemudian kamu akan ditanya tentang perbuatan itu

Dari sini saya dapatkan apa yang dimaksud Allah dalam kisah di atas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Abu Hurairah, ia berkata, “Al Hakumut Takasur turun karena ada kaitannya dengan dua kabilah dari seorang Ansar, yaitu Bani Harisah dan Bani Al Haris, mereka saling membanggakan kabilahnya masing-masing. Salah satu dari dua kabilah itu berkata, adakah di kalangan kamu orang besar seperti si Anu? Yang lain berkata begitu pula, mereka berbangga-bangga dengan orang-orang yang masih hidup. Lalu mereka bersama-sama menuju ke kubur. Salah satu dari dua kabilah itu mengatakan, “Adakah di antara kamu orang besar seperti ini sambil menunjuk kepada satu kuburan? Dan yang lain berkata begitu pula, lalu turunlah surah ini”.

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan banyak harta, teman dan pengikut, sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. Mereka asyik dengan berbicara saja, terpedaya oleh keturunan mereka dan teman sejawat tanpa memikirkan amal perbuatan yang bermanfaat untuk mereka dan keluarga mereka.

Telah diriwayatkan dari Mutarrif dari ayahnya, ia berkata:

M أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقرأ ألهاكم التكاثر قال يقول ابن آدم مالي ومالك يا بن آدم ليس لك من مالك إلا ما أكلت فأفنيت أو لبست فأبليت أو تصدقت فأمضيت وما سوى ذلك فذاهب وتاركه للناس.
Artinya:
Saya menemui Nabi SAW membaca: “Al Hakumut Takasur” beliau berkata. “Anak Adam berkata: inilah harta saya dan harta kamu: Hai anak Adam! engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang telah engkau makan dan telah engkau habiskan atau pakaian yang kamu pakai sehingga lapuk atau harta yang telah kamu sedekahkan sampai habis, selain itu akan hilang dan engkau tinggalkan bagi orang lain”.
(H.R Maulim)

Dan telah diriwayatkan pula dari Anas bahwa Nabi SAW. bersabda:

لو أن لابن آدم واديا من ذهب أحب أن يكون له واديان ولن يملا فاه إلا التراب ويتوب الله على من تاب.
Artinya:
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas ia ingin memiliki dua lembah emas dan tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) kecuali mulutnya diisi dengan tanah kuburan dan Allah akan memberikan ampunan kepada orang yang bertobat”.
(HR. Anas bin Malik)

Sementara Ahli Tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah bangga dalam berlebih-lebihan. Seseorang berusaha memiliki lebih banyak dari yang lain baik harta ataupun kedudukan dengan tujuan semata-mata untuk mencapai ketinggian dan kebanggaan, bukan untuk digunakan pada jalan kebaikan atau untuk membantu menegakkan keadilan dan maksud baik lainnya.

Mudah-mudahan Allah masih memberi mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar dan hati yang tidak mengeras kepada kita semua.

Renungan hari pertama…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s