Takut

Standar

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman dari China ketakutan setelah pemberitaan di situs kepolisian Aichi melaporkan tentang kriminal yang meningkat drastis. Saking takutnya, saya terpaksa menemaninya hingga di dekat apartemennya karena kami pulang sangat larut.

Takut adalah manusiawi.

Tidak ada insan yang tak pernah takut.
Saya pun sebenarnya agak takut jika teman di samping saya pun takut, tetapi saya selalu yakin dengan mengatakan “Allah selalu melindungiku !”

Ketika merasa takut, mamak dulu selalu mengajari untuk membaca ayat kursiy, surah an-naas dan surah al-falaq.

Mari kita lihat kedua surat terakhir :

An-Naas

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

مَلِكِ النَّاسِ

إِلَهِ النَّاسِ

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

Qul (katakanlah) a’uudzu (aku berlindung) biraabi (kepada Tuhan) an-naas (manusia). Maliki (Raja) an-naas (manusia). Ilaahi (Yang disembah) an-naas (manusia). min (dari) syarri (kejahatan) al-waswas (bisikan) al-khannaas (yang tersembunyi). Alladzii (yang) yuwaswisu (membisikkan) fii (ke dalam) shuduuri (dada2) an-naas (manusia). min (dari) al-jin (jin) wa (dan ) an-naas (manusia)

Al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

qul (katakanlah) a’uudzu (aku berlindung) birabbi (kepada Tuhan) al-falaq (yang menguasai subuh). min (dari) syarii (kejahatan) maa (apa-apa) khalaqa (yang Dia ciptakan). Wamin (dan dari) syarri (kejahatan) ghaasiqin (malam) idzaa (apabila) waqaba (gelap gulita). wamin (dan dari) syarri (kejahatan) an-naffaatsaat (wanita2 penyihir yang meniupkan mantera) fii (ke dalam) al-uqod (buhul-ikatan2). wa min (dan dari) syarri kejahatan) haasidin (orang yang dengki) idzaa (apabila) hasada (dia dengki)

Ayat-ayat dalam kedua surat ini demikian jelas menyebutkan segala bentuk kejahatan yang mungkin muncul  di muka bumi ini, baik yang ditimbulkan oleh benda mati karena mengikuti sunatullah, misalnya banjir, tanah longsor, pohon tumbang. Ataupun kejahatan yang ditimbulkan oleh makhlukNya yang berakal maupun tak berakal.

Karena semuanya berada di dalam pengawasan dan kontrol Allah, maka tidak ada tempat berlindung kecuali kepadaNya.

Tapi masih banyak juga yang mempercayakan keselamatannya kepada jimat, yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan tidak pula bahaya kecuali Allah menghendakiNya.

Kejahatan manusia sungguh sulit diprediksi. Ketika bertemu dengan orang di jalan kita tidak pernah mengira apa yang sedang ada dalam otaknya, apa yang sedang bergejolak di hatinya, atau apakah dia barangkali sedang membenci orang lain, tapi kita yang ada di depannya menjadi tumpahan kekesalannya.

Orang yang dengki adalah orang yang akal sehatnya tak jalan. Sehingga apa saja yang dilakukan untuk mengalahkan lawannya adalah hal yang sah-sah saja. Tapi manalah kita tahu siapa yang dengki kepada kita, karenanya satu-satunya cara adalah memohon kepada Allah untuk perlindungannya selalu.

Ketika merasa takut akan kejahatan makhluk, maka berharaplah kepadaNya, dengan mengingatNya melalui ayat-ayatNya. Tetapi tak ada gunanya jika lidah melafadzkan ayat-ayat tersebut tanpa menyelami maknanya.

Yang paling aku takutakan dari segala bentuk ketakutan adalah berhadapan dengan Allah di hari perhitungan.

Renungan hari kedelapan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s