Takaran

Standar

Salah satu materi yang wajib diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing adalah percakapan tawar menawar di pasar. Di Jepang kegiatan tawar menawar sangat jarang dijumpai ketika membeli barang-barang keperluan sehari-hari, sebab umumnya harga sudah dipastikan.

Tetapi di Indonesia, penjual menetapkan harga dengan memperhatikan kesukaan menawar pembeli.

Percakapan seperti ini sering kita dengarkan di pasar :

“Bang, beli cabenya 1 kilo”

“1 kilo Rp 2500 mbak ” (misalnya, saya tidak tahu harga cabe di Indonesia sekarang)

“Bang, tambahin dikit ya….! (cabenya)”

Lalu si Abang mengambil sejumput cabe tambahan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Sebenarnya hal biasa mungkin, tetapi akibatnya bisa fatal menurut Al-Quran. Mari kita lihat uraiannya dalam QS Al Muthoffifiin : 1-6

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

wailu (celakalah) al-muthoffifiin (orang-orang yang curang)

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

Alladziina (yaitu orang-orang yang) idzaa (apabila) iktaaluu (menerima takaran) ala (dari) an-naasi(orang lain) yastaufuun (mereka minta dipenuhi)

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

wa idzaa (dan apabila) kaaluuhum (mereka menakar ) awwazanuuhum (atau menimbang) yuhsinuun (mereka mengurangi takaran)

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ

alaa (tidakkah) yazunnu (mengira) ulaaika (orang-orang itu) annahum (bahwasanya mereka) mab’uutsuun (akan dibangkitkan)

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

li yaumin (pada hari) adziim (yang besar)

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

yauma (yaitu hari) yaquumu (berdiri) an-naasi (manusia) lirabbi (di hadapan Tuhan) Al-’aalamiin (seluruh alam)

Meminta tambahan sedikit ataupun mengurangi takaran walaupun hanya sejumput tetap tercatat oleh malaikat sebagai sebuah amalan yang harus dipertanggungjawabkan kelak.

Jika kita berani menanggung api neraka yang panasnya yang terkecil saja adalah ibarat bara api yang diletakkan di bawah tapak kaki lalu panasnya menjalar ke ubun2, maka teruskanlah kecurangan itu.

Jual beli yang terbaik adalah jual beli dengan kejujuran dan keikhlasan. Kejujurang terbangun antara penjual dan pembeli jika keduanya memiliki sifat itu. Tak perlu ada tawar menawar seandainya keduanya jujur menetapkan harga berdasarkan kondisi barangnya.

Suatu kali saya pernah berbelanja di pasar Anyar Bogor, pagi-pagi sehabis acara pengajian tafsir di Masjid Al-Hijri. Pedagang memenuhi trotoar sepanjang jalan menuju pasar dengan ragam jualan sayur segar dan aneka bumbu. Saya berdiri memilih-milih sayur bayam yang diikat 3 ikatan, harganya waktu itu masih murah, Rp 150. Harga itu sebenarnya sangat tipis keuntungannya. Seorang ibu datang langsung menanyakan harga, dan segera menawar dengan harga Rp 100. Si Bapak penjual langsung saja mempersilahkan, sambil bertanya beli berapa ikat ?

Saya yang tidak jago menawar hanya termangu. Pikiran saya melompat ke tanaman bayam yang ditanam santri-santri pesantren. Santri-santri harus bersusah payah mengangkut berember2 air dari sungai di bawah kebun agar tanaman bayam kami bisa bertahan hingga panen. Kalau tahu betapa beratnya menghasilkan sebutir biji bayam menjadi sebatang bayam, maka semua orang yang membeli bayam si Bapak tadi tentu tidak akan menawar.

Sayangnya tidak semua orang pernah menanam bayam.

Renungan hari kelimabelas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s