Sayang harta, sayang anak

Standar

Hari ini saya berbuka puasa di Masjid Honjin. Banyak sekali anak-anak yang memikat hati datang. Barangkali lebih banyak daripada orang dewasa.

Ibu mana yang tidak sayang kepada anak yang lahir dari rahimnya, dan ayah manapula yang tidak cinta kepada darah dagingnya ?

Jika ditanya mana yang kau pilih : harta atau anak ?
Maka tentu semua yang normal akan menjawab, anak.
Tetapi anak, pun harta dapat menjerumuskan….

Inilah peringatan Allah dalam QS Munaafiqun : 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

yaa (wahai) ayyuhalladziina aamanuu (orang-orang yang beriman) laa (janganlah) tulhikum (melalaikanmu) amwaalakum (harta2mu) wa awalaadakum (dan anak-anakmu) ‘an dzikrillaahi (dari mengingat Allah) wa min (dan siapa) yaf’al (yang mengerjakan) dzaalika (itu) fa ulaaika (maka itulah) hum (mereka) alkhaasiruun (orang yang merugi)

Harta yang dikumpulkan oleh orang tua adalah tabungan untuk menyenangkan permata hatinya.
Ayah bekerja keras, hidup irit dan prihatin agar kelak anak dapat mengecap kehidupan dan pendidikan yang lebih baik daripada ayah bundanya. Ibu bahkan rela berkorban demi anak. Banyak sudah contoh kefatalan yang muncul karena berlebihnya cinta orang tua kepada anak.

Tetapi mengapa Allah menyebutkan kata harta mendahului kata anak sebagai penyebab kelalaian ?

Allah Maha Tahu bahwa sejatinya hambaNya banyak yang lebih mencintai hartanya daripada anaknya. Saat seorang bapak sedang disibukkan dengan kalkulasi untung yang akan diperolehnya, dia tak akan ingat apakah anaknya sudah sholat ? Jangankan ingat anaknya, karena ‘time is money’ menjadi azaz setiap usaha, maka janganlah terlalu jauh berharap bahwa insan dalam keadaan demikian akan ingat kepada Allah.
Maka ditempatkanlah peringatan yang pertama : bahwa harta menyebabkan kelalaian berdzikir.

Mengingat Allah dalam tafsir ayat di atas dimaknakan sebagai sholat lima waktu. Sekalipun Allah melonggarkan waktu-waktunya, tetapi masih saja insan melalaikannya. Sekalipun disebutkan ratusan kali di dalam Al-Quran, tapi tak cukup menggetarkan hamba untuk segera menunaikannya.

Anak, sebagaiamana harta adalah permata bagi orang tua. Memandangnya selalu saja menyejukkan mata dan menimbulkan cinta. Tetapi mencintainya secara berlebihan akan mengirimkan ayah dan bundanya kepada kelalaian mengingatNya.

Anak, belum tahu apa-apa bahwa dia menyebabkan orang tuanya lalai berdzikir. Tapi orang dewasa sudah mafhum dengan kesempurnaan akal dan otaknya, bahwa dia sudah lalai. Maka tak pantas dia mengkambinghitamkan anak ketika dia tak sholat.

Mari berdiri mengingatNya lima kali sehari saja jika tak sanggup menambahnya menjadi lebih dari yang wajib.

Renungan hari keempatbelas…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s