Sabar dalam sholat

Standar

Menjelang hari-hari terakhir ramadhan insan seharusnya semakin giat beribadah. Tetapi biasanya di masjid makin ke depan barisan makmumnya. Kita semakin malas berdiri lama memujiNya.

Tak terbayangkan apabila Allah menetapkan ramadhan untuk setahun penuh.

Allah memerintahkan kita untuk bersabar dalam menunaikan sholat.

QS Thahaa : 132

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

wa mur (dan perintahkanlah) ahlaka (kepada keluargamu) bissholaati (untuk sholat) washthobir alaihaa (dan bersabarlah dalam mengerjakannya). Laa (tidaklah) nas aluka (Kami meminta kepadamu) rizqan (rizki) nahnu (Kami lah) narzuquka (yang memberimu rizki) wal ‘aafiyatu (dan akibat yang baik) littaqwaa (adalah untuk orang yang bertakwa)

Allah menyeru dengan kata seru kepada kaum lelaki sebagai qawwam (pemimpin) kaum perempuan, yaitu para ayah agar menyuruh keluarganya (istri dan anaknya) untuk sholat. Perintah itu menjadi sesutu yang tak dapat ditawar pelaksanaannya bagi siapa saja yang mengakui Allah.

Sholat adalah bukti pengakuan hamba kepada RabbNya, yaitu sebuah pengakuan yang tidak hanya tertahan di lisan, tetapi merembet menjadi gerakan ibadah pemujian kepadaNya. Hal pertama yang harus diajarkan kepada anak setelah dia mengakui Allah.

Sholat bagi sebagian anak barangkali membosankan dan melelahkan, sebab akalnya belum mampu memafhumi kenapa mereka harus melakukan gerakan-gerakan itu.

Ketika masih kecil, saya sering sekali titip pesan kepada Bapak yang mengimami kami : “bacanya Qulhu saja ya !”  Tetapi saat saya sudah mulai menghafal banyak surat-surat panjang, saya kembali menegur Bapak : “Bacanya jangan Qulhu melulu, Pak”

Dan pada setiap Ahad saya menjadi makmum tarawih di masjid Honjin, saya selalu tak tahan gangguan syaithon untuk menghembuskan nafas kelelahan di pertengahan rokaat, sebab imam membaca surah Al-Baqarah, atau melantunkan doa qunut yang sangat panjang dan dalam.

Sholat membutuhkan kesabaran untuk menunaikannya. Mengerjakannya menjadi tak bermakna ketika kita tak sempurna mengangkat tangan takbiratul ihram. Kesempurnaannya menjadi cacat ketika i’tidal kita lakukan tanpa tuma’ninah. Sholat yang terburu-buru, ruku’nya bagaikan burung pelatuk.

Banyak pakar yang mengatakan bahwa aliran darah berjalan sempurna ketika kepala kita tegakkan, badan diluruskan, membungkuk 90 derajat lalu kemudian sujud bertumpu pada 7 titik anggota tubuh. Maka melakukannya dengan kesempurnaan tentu membawa kepada ketenangan jiwa dan raga.

Allah menghubungkan perintah sholat dengan ingatan bahwa Dia tidak pernah meminta rizki kepada hambaNya, tetapi sebaliknya hambalah yang bergantung kepadaNya.

Lupakah kita bahwa pada setiap akhir sholat, tangan kita selalu menadah dan tak pernah putus kita meminta :” Ya Allah tambahkanlah rizkiku !”

Kita selalu saja merasa kurang. Padahal Allah sudah mengatur “budget rizki” kita seadil-adilnya.

Ya, Allah sabarkanlah aku dalam sholatku, karuniakanlah aku rizki yang halal dan cukupkanlah aku dengannya.

Renungan hari keduapuluhtiga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s