Melawan Kezaliman

Standar

Kezaliman tak pernah berhenti di muka bumi ini sebelum waktunya tiba kelak.
Setiap hari ada saja orang yang dianiaya dan teraniya.
Setiap detik ada saja orang yang berubah segarang binatang.

Kezaliman itu bukan tabiat. Karenanya dia harus dilawan.

QS Asyuura : 39-43

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنتَصِرُونَ

walladziina (dan orang-orang) idzaa (apabila) ashaabahum (menimpa mereka) albaghyuu (kezaliman) hum (mereka) yantashiruun (membela diri)

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

wa jazaau (dan balasan) sayyiattin (sesuatu) sayyiatun mitsluhaa (adalah sesuatu yang serupa). fa man (dan barangsiapa) ‘afaa (memaafkan) wa ashlaha (dan berbuat baik) fa ajruhuu (maka balasannya) ‘alallaahi (atas tanggungan Allah). Innahu (sesungguhnya) laa yuhibbu (tidak mencintai) adzoolimiin (zalim)

وَلَمَنِ انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ

wa liman (dan bagi siapa saja) intashoro (membela diri) ba’da dzulmihi (sesudah kedzoliman) fa ulaaika (maka mereka) maa alaihim (tidaklah ada atas mereka) min sabiil (dosa)

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ

innamaa (sesungguhnya) as-sabiilu (dosa) alalladziina (atas orang-orang) yadzlimuun (mendzalimi) annaasa (manusia) wayabghuuna (dan melampaui batas) fil ardli (di muka bumi) bighairilhaqqi (tanpa kebenaran). ulaaika lahum (maka bagi mereka) azaabun aliim (azab yang pedih)

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

wa liman shabara (dan barangsiapa yang bersabar) waghafara (dan mohon ampun) inna dzaalika (sesungguhnya yang demikian itu) lamin (adalah termasuk) ‘azmilumuur (perbuatan yang berat).

Allah mengatakan bahwa kedzaliman tidak boleh dibiarkan. Orang yang dizholimi harus membela diri. Adalah hak yang terzalimi untuk membalas dengan perbuatan yang sama, dan dia sama sekali tak berdosa ketika membela diri. Tetapi Allah menyediakan pilihan kedua yang sangat arif yaitu, memaafkan.

Kasih sayang perlu didatangkan ketika amarah muncul. Kerelaan memaafkan seperti kucuran air yang mematikan api yang membara.

Saat terzalimi adalah sangat berat untuk memaafkan, sabar kemudian berbuat kebaikan, semisal menasihati atau menolong orang yang menzalimi. Tetapi karena berat itulah Allah mengganjarnya dengan surga.

Kezaliman terkadang tidak disadari sebab saat melakukannya akal sehat tak bersama kita.

Yang paling kucemaskan adalah perbuatan zalim yang dilakukan tanganku sementara hati dan akalku tak menyadarinya.

Kemarin seharian saya tak bisa terkoneksi dengan internet, maka seharusnya tulisan ini adalah Renungan hari keduapuluhlima.

Mohon maaf….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s