Janganlah terlalu gembira dan jangan pula terlalu berduka

Standar

Sudah basahkah tenggorkan anda hari ini ?
Selamat berbuka puasa !
Sekalipun masih bergelut dengan tumpukan kertas di atas meja, saya bersyukur atas kekuatan yang diberikanNya hari ini dan nikmat rizkiNya.

Hari ini saya menerima berita buruk tentang penolakan artikel saya di sebuah jurnal internasional, sedih sekali.

Berikut ini saya tuliskan obat kesedihan itu, Surat Al Hadid (57) : ayat 22-23

Seperti biasa saya terjemahkan ala shorogan :

maa (tidaklah) ashoba (telah menimpa) min (dari) mushibaatin (sebuah musibah) fi (di) al-ardhi (bumi)
wa (dan) la (tidak juga) fi (di ) anfusikum (menimpa dirimu), illa (kecuali) fi (di) kitaabin (tercatat dalam kitab (di Lauhil Mahfudz-red)) min (dari ) qabli (sebelum) an-nabra ahaa (Kami mewujudkannya). inna (sesungguhnya) dzalika (yang demikian itu) ala (bagi) Allahi (Allah), yasiir (sangatlah mudah).

likaila (agar kalian tidak) ta’sau (terlalu bersedih) ala (atas) maa (apa-apa) faatakum (yang menimpamu)
wa (dan) laa (tidak) tafrahuu (terlalu gembira) bimaa (dengan apa-apa) ataakum (yang kami datangkan kepadamu). wallaahu (dan Allah) laa (tidak) yuhibbu (mencintai) kulla (siapa saja) mukhtaalin (sombong) fakhuur (lagi membanggakan diri)

Kejadian hari ini tentunya sudah tercatat di kitab catatan tentang takdir seorang hamba yang bernama Murni Ramli, tersimpan di suatu tempat yang maha rahasia, bahkan jin dan malaikat pun tak bisa mencuri isinya.

Penolakan dengan komentar 2 orang reviewer yang agak menyakitkan saat pertama kali dibaca, tetapi setelah berulang-ulang mengingatNya, maka komentar itu menjadi sebuah nasehat yang sungguh bermanfaat untuk sebuah artikel yang bernilai plus.

Kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti dalam kehidupan insan. Kadang-kadang kegembiraan membuat aliran darahnya memaksanya untuk berteriak gembira dan lupa kepada Yang Mendatangkannya.

Kesedihan pun datang di kala Allah sudah merasa hambaNya telah cukup bergembira dengan nikmatNya. Datangnya semata untuk menguji keimanan. Apakah dia tidak membenciNya sesudah itu, atau bahkan lebih mencintaiNya.

Penolakan hari ini menekan syaraf-syaraf di kepala yang sudah letih barangkali, untuk terus bekerja, merangkai kalimat-kalimat yang semoga merupakan catatan mulia di buku kebaikanku kelak.

Renungan hari keempat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s