Iri

Standar

Iri adalah sifat manusia yang tidak bisa dihapus kecuali dengan menjadi hambaNya yang bersyukur atas nikmatNya.

Allah menyebutkan tentang larangan menyuburkan keirian, sekalipun itu fitrah manusia.

QS Thahaa : 131

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

wala tamudanna (dan janganlah kamu tujukan) ‘ainaika (kedua matamu) ilaa (kepada) maa (apa-apa) matta’naa bihi (nikmat yang Kami berikan) azwaajan (kepada golongan-golongan) minhum (di antara mereka) zahratul hayaatuddunyaa (sebagai bunga kehidupan) liyaftinahum (untuk Kami cobai mereka) fiihi (dengannya) wa rizqu rabbika (dan rizki dari TuhanMu) khairun (lebih baik) wa abqaa (lagi kekal)

Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput yang tumbuh di halaman kita.

Begitulah manusia selalu saja melihat sesuatu yang jauh di depannya tanpa mau mensyukuri yang ada di depan matanya.

Sering sekali kita merasa iri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dunia barat yang pada akhirnya menjerumuskan kepada mengelu-elukan kemajuan kaum muslim dahulu, Al-Haitsam yang ahli biologi, Ibnu Sina yang ahli pengobatan, atau Al-Khawarizmi ahli matematika penulis kitab Al-Jabr wal muqaabilah. Tetapi sekedar mengelukan, tanpa mampu bergerak.

Sepatutnya merekalah yang dimuliakan Allah yang patut berbangga. Sedangkan kita apatah yang bisa kita banggakan sekarang? Berbangga sebagai orang yang beriman tak patut apabila masih juga kita melakukan penipuan. Berbangga sebagai orang yang mendirikan sholat tak pantas apabila kita masih berkata kasar. Berbangga sebagai orang yang telah menunaikan ibadah haji pun tak layak apabila kita masih saja memakan harta si miskin.

Iri tak sekedar dengki karena si A lebih banyak pundi-pundinya, tetapi iri pun termasuk apabila kita tidak senang dengan kemajuan orang lain. Allah mendatangkan kepandaian, kejeniusan, kemajuan hingga kepandaian mengelola hasil bumi kepada banyak kaum, adalah semata untuk menguji mereka apakah mereka menjadi kaum yang mensyukuri nikmat tersebut.

Malulah kiranya jika kita berfikir bahwa kemajuan barat karena mencuri apa yang dimiliki orang Islam dahulu. Sebab Allah sudah mengatur pergiliran keunggulan setiap kaum sebagaimana berputarnya roda pedati.

Sejatinya Allah pun menguji kita dengan harta, anak, kepandaian yang kita miliki, apakah kita mensyukuriNya. Allah tidak pernah luput menguji setiap jiwa untuk membedakan mana yang benar-benar beriman.

Renungan hari keduapuluhdua…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s