Hanya segumpal nutfah

Standar

Apakah manusia itu ?
Dalam pelajaran IPA SD manusia dikelompokkan sebagai makhluk hidup, serumpun dengan hewan dan tumbuhan.
Lalu entah bagaimana muasalnya, kita mulai membedakan bahwa kita, manusia, berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Sehingga kita mulai menggunakan kata “siapa” untuk mengidentifikasikan manusia, dan kata “apa” untuk mengidetifikasikan non manusia.
“Siapa dia ? “   “Dia buku”   Kalimat ini jelas akan diberi “telur” oleh Ibu guru bahasa Indonesia.

Apakah saya ?

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Mari memahaminya dengan gaya shorogan !

hal (bukankah) ataa ( telah datang) ‘ala (kepada) al-insaan (manusia) hiinun (suatu masa) min (dari) ad-dahri (beberapa masa) lam (yang belumlah) yakun (dia berwujud) syaian (seperti sesuatu) madzkuuran (yang dapat disebut-mempunyai definisi) ?

innaa (sesungguhnya Kami) khalaqnaa (Kami telah menciptakan) al-insaan (manusia) min (dari) nuthfatin (nutfah=mani) amsyaajin (yang bercampur) nabtaliihi (Kami hendak mengujinya), fa (maka) ja’alnaahu (kami jadikan dia) samii’an (mampu mendengar) bashiiran (mampu melihat)

innaa (sesungguhnya Kami) hadainaahu (Kami memberinya hidayah) as-sabiila (sebuah jalan) imma (ada) syakiiran (yang bersyukur) wa (dan ) imma (ada pula) kafiiran (yang kafir=ingkar).

Manusia hanyalah dari segumpal nuthfah. Kata nuthfah ditafsirkan banyak pihak sebagai mani, cairan sperma yang kemudian bertemu dengan sel telur. Di dalam tafsir yang lain diartikan sebagai tanah.

Manusia dari sisi muasalnya adalah makhluk yang tak ada apa-apanya, tapi Allah menakdirkannya untuk menjadi khalifah di bumi ini dengan menjadikannya makhluk yang mampu mendengar dan melihat, sebab Allah ingin mengujinya kelak, apakah dia menggunakan pendengaran dan penglihatannya dengan sebaik-baiknya.

Kalimat samii’an bashiiran, sungguh menarik. Jika kita amati bayi, maka semua orang tua mestinya sangat tahu bahwa bayi-bayi pertama kali mengenali ayah ibunya melalui suara, sebab indera pendengarannya yang tercipta dahulu, lalu dia akan mengenali ayah ibunya melalui matanya yang bening, sebab Allah telah menganugerahinya penglihatan sesudah mampu mendengar.

Lalu Allah membentangkan jalan-jalan hidup untuk manusia yang sudah dibekali pendengaran dan penglihatan. Masing-masing jiwa memilih jalannya. Ada yang beriman dan ada pula yang membangkang.

Maka banyaklah manusia yang membangkang, yang merasa diri sanggup memikul beban pemeliharaan bumi dan isinya.

Jika ingat bahwa aku hanyalah nuthfah, malu aku mengenang masa-masa berbualku, membanggakan kehebatanku di depan sesamaku.

Ah…..semoga Allah menghapusnya dari catatan dosaku.

Renungan hari ketiga…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s