Berapa tahunkah kau tinggal di bumi ?

Standar

Pertanyaan itu adalah pertanyaan sindiran yang ditanyakan Allah kepada penghuni neraka sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mu’minuun ayat 112-114.

Ayat-ayat yang mendahului ayat ini menjelaskan panjang tentang peristiwa ketika sangkakala ditiup, tentang penyesalan penghuni neraka dan permohonannya agar dikembalikan ke dunia.

Penyesalan itu selalu datang terlambat.

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

qoola (Allah berkata) kam labistum (berapa lamakah kalian tinggal) fil- ardli (di bumi) ‘adada siniin (sejumlah tahunkah).

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلْ الْعَادِّينَ

qooluu (mereka menjawab) labitsnaa (kami tinggal) yauman (sehari) aw ba’dla yaumin (atau setengah hari). Fas alul aaddiin (maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung)

قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

qoola (Berkata Allah) in labitstum (tidaklah kalian tinggal) illaa qaliilan (kecuali sebentar) lau annakum (sekiranya kalian) kuntum (dalam keadaan) ta’lamuun (mengetahui)

Masih sering saya berlaku seperti kanak. Masa kanak-kanak rasanya baru saja lewat sehari yang lalu.

Bapak memanjat pohon kelapa dan saya memegangi tangganya. Ini juga baru saja terjadi sehingga masih terekam baik di memoriku.

Pertanyaan Allah kepada penghuni neraka sungguh mendatangkan malu yang tak tertahan kepada sesiapa yang ditanya. Ketika hidup di dunia mereka merasa bahwa hidup akan bertahun-tahun lamanya bahkan kekal.

Tetapi ketika Allah menanyai mereka di neraka setelah mereka menjalani siksaan yang panjang di akhirat, mereka menjawab bahwa hidup di dunia hanya sehari atau setengah hari. Sebuah ungkapan keputusasaan yang tiada tara karena beratnya siksaan akhirat.

Allah menjadikan berjalannya waktu di dunia sangat cepat, yang kalau dibandingkan dengan hari-hari di akhirat kelak, sungguh-sungguh hari-hari di dunia hanya sekejapan mata.

Kemarin baru saja musibah datang, hari ini kegembiraan berkunjung. Sungguh pergantian yang cepat itu membawa faedah kepada insan agar tak telalu lama berkabung dan tak terlalu lama pula bergembira.

Tetapi benarkah sebentar kehidupan dunia ini ?

Ya, hidup di dunia seperti berdiri di halte bis menunggu bis yang pasti datang.
Menunggu ditiupnya sangkakala adalah penantian yang menyebabkan hari-hari semakin pendek jika kita merenunginya.

Setiap bulan orang-orang di Jepang berlatih mempersiapkan diri menghadapi gempa, menaruh minuman aqua 2 botol besar, makanan kecil, pakaian secukupnya, senter, radio portable dalam sebuah tas yang siap dijinjing jika gempa datang.

Tetapi apakah mereka bersiap-siap juga untuk menanti tiupan yang memekakkan telinga kelak ?

Ramadhan sudah yang ke-24. Rasanya baru saja saya melihat hilal satu ramdhan kemarin…..

Allahumma, jangan Engkau biarkan aku terlena dengan nikmat dunia dan melupakan akhiratMu.

Renungan hari keduapuluhempat……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s