Sederhana ketika kaya
Agustus 29, 2011 4 Komentar
Kehidupan para pembesar di tanah air, orang kaya yang dilimpahkan rizki oleh Allah kepadanya sungguh membuat iri kaum dhuafa yang kecil hatinya. Bahkan seperti ada perlombaan kekayaan di antara mereka. Lalu kapankah hidup sederhana harus dimulai?
Sejarah Islam telah mengirimkan teladan-teladan yang tiada duanya tentang kesederhanaan. Mulai dari Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kesahajaan di balik statusnya sebagai pemimpin umat. Kesederhanaannya menjalar kepada para sahabatnya, hingga khalifah yang mulia Umar bin Abdul Aziz.
Ketika shalat Jum’at di masjid salah seorang jamaah bertanya, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau sekedar berpakaian bagus?” Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”
Abu Ja’far al-Manshur pernah bertanya kepada Abdul Aziz tentang kekayaan Umar bin Abdul Aziz, ”Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?” Abdul Aziz menjawab, ”Empat puluh ribu dinar.” Ja’far bertanya lagi, ”Lalu berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?” Jawab Abdul Aziz, ”Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang.”
Bahkan suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Ia berkata kepada istri Umar, ”Tidakkah engkau cuci bajunya?” Fathimah menjawab, ”Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain yang ia pakai.”
Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang tidak biasa dilakukan arja-raja Dinasti Umayyah sebelumnya.
Para petugas protokoler kekhalifahan terkejut luar biasa. Umar menolak kendaraan dinas. Ia memilih menggunakan binatang tunggangan miliknya sendiri. Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’”
Allah telah memberikan keberkahan kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz dengan nama besar dan teladan yang mulia. Kesederhanannya sebagai pemimpin umat tiada bandingannya hingga kini.
Renungan hari keduapuluh delapan….
Pingback: Sederhana ketika kaya « Berguru
benar banget Kawan ^_^
Seorang yang Kaya dan sederhana itu adalh baik …
tapi sekarang mah jarang, kebanyakan orang kaya pengen nunjukin kekayaan meraka …
menarik artikel yg anda buat..trima kasih..
InsyaAllah..amin..Kehidupan sederhana lebih indah dn bermakna